Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Maksud Allah Menurunkan Agama Islam Kepada Umat Manusia

Kuliah SubuhCijantung, 11 Agustus 2010. Ramadhan 1431 Hijriyah kali ini Da’i Fi’ah Qalilah (DFQ) mendapat kesempatan pertama untuk menjadi pemateri dalam penyajian kegiatan bulan suci Ramadhan. Tema kuliah subuh perdana ini , “Agama Islam diturunkan untuk Kepentingan siapa?”, jamaah yang terlibat dalam kuliah subuh tersebut cukup antusias dan beragam, itu terlihat di akhir penyampaian materi beberapa dari mereka turut memberikan pertanyaan serta tanggapan seputar tema yang disampaikan oleh tim DFQ.

Tema kajian yang berupa pertanyaan itu, dalam pandangan Julmansyah Putra selaku penyampai materi, bahwa agama (Islam) sejatinya diturunkan tidak semata-mata untuk kepentingan Allah, lebih dari itu Islam dengan al-Quran sebagai kitab sucinya diperuntukkan sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana jelas diisyaratkan dalam al-Quran surat al-Israa’ [17]: 82 yang artinya; “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.

Fenomena kemiskinan dan penderitaan yang kini sedang dirasakan oleh umat Islam juga menjadi pembahasan dalam kuliah subuh perdana di Masjid Nurul Iman, Cijantung ini. “Kalau agama (Islam) itu telah diturunkan sebagai penawar dan rahmat, mengapa masih saja kemiskinan, derita kelaparan, kemungkaran, dan keburukan lainnya masih melanda umat Islam, adakah yang salah dari cara kita beribadah?”, ujar Julmansyah di sela-sela penyampaian materi.

Bagi pemateri, ibadah yang seringkali kita laksanakan tidak menjadi sesuatu yang oprasional. Absennya satu kesadaran positif yang seharusnya lahir setelah melaksanakan ibadah (shalat) misalnya, lebih disebabkan karena ketakhirauan kita pada makna yang sejatinya terkandung dari tiap-tiap bacaan yang kita ucapkan. Akhirnya, ketidakpahaman tersebut tidak diikuti pula dengan permohonan kita (menyampaikan pesan, doa) dalam shalat. Pada titik inilah, kesadaran positif itu tidak hadir dalam tindakan nyata (amalan, ibadah ghairu mahdhah) setelah kita melakukan dzikir, shalat, dan ibadah mahdhah lainnya. Maka, “jangan heran”, lanjut Julmasyah, semangat berkorban dan berbagi pada sesama sudah mulai terkikis. Akibatnya kemiskinan akan tetap menjadi penyakit bagi umat Islam.

Prof. Dr. M. Amin Aziz, selaku pembimbing DFQ, yang juga hadir dan memberi pengantar dalam kajian subuh tersebut juga menyampaikan keprihatinannya tentang kondisi umat saat ini, “umat Islam sedang sakit”, ujarnya. Maka, kita diperintahkan untuk meminta agar diberi solusi atas kesusahan yang sedang kita hadapi, terutama dengan sabar dan shalat, “meminta tolonglah dengan sabar dan shalat” (al-Baqarah [2]: 153). Tambah Prof. Amin Aziz dalam penutup pengantarnya.

Kuliah subuh yang mengangkat tema utamanya “Dzikir dan Doa” ini akan rutin dilaksanakan selama bulan Ramadhan 1431 H, yaitu setiap hari Selasa dan Rabu setelah shalat subuh berjamaah di Masjid Nurul Iman, Cijantung. Mohon maaflahir batin, semoga kita dapat merengkuh takwa dan selamat shaum.



Leave a Reply