Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Renungan Sabar

Renungan Sabar

Sering orang mengatakan bahwa ‘sabar ada batasnya’. Ungkapan ini sering terucap ketika seseorang sedang menahan diri untuk tak membalas perlakuan buruk orang lain. Saat ia sudah begitu tersudut akibat penzoliman lingkungan terhadap dirinya. Atau ketika musibah seolah tak henti menghampiri, kemudian dalam keputusasaan kalimat itu sering terucap. Tidak! Jika sabar itu berbatas, sesungguhnya pada titik itulah sabar itu tak lagi bersama kita.

Sabar tak itu tak bertepi. Allah meminta orang yang beriman menjadikan sabar sebagai penolongnya. Bahkan, Allah akan selalu bersama mereka yang menggenggam sabar dalam hatinya. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah [2]: 153). Dan sungguh janji Allah tak mungkin Ia ingkari.

Pelajaran sabar, tentu tak selalu ditemukan dalam bentuk derita. Perlakukan buruk orang lain, cobaan hidup yang tampak tak berujung, adalah satu bagian dari proses seorang hamba menemukan sabar. Pun, sejatinya pelajaran sabar dapat dijumpai dalam bentuk kenikmatan. Kecukupan bahkan kelebihan harta, jabatan, keluarga yang bahagia, dan kesenangan dunia lainnya merupakan ujian, apakah seseorang mampu bersykur. Sabar untuk tidak terlena dalam kekenikamtan sehingga lupa diri dan melupakan orang lain.

Baik derita ataupun nikmat, keduanya adalah ujian yang sedang diberikan Allah pada hamba-Nya, apakah ia layak dinaikkan ‘kelasnya’. Tahan ujian juga menjadi bukti keimanan. Bukankah, tak serta merta seseorang mengaku beriman tanpa diuji terlebih dahulu. Allah mengingatkan, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al ‘Ankabuut [29]: 2)

Lalu bagaimana caranya, menyikapi ujian penderitaan dan kenikmatan agar menjadi keberkahan hidup dan sabar berbuah bahagia? Setidaknya ada dua hal yang penting untuk kita pahami dan jalani. Pertama, jadikan sabar dalam ujian sebagai momentum meminta pertolongan Allah. Prof. M. Amin Aziz, penulis buku The Power of Al-Fatihah, terkait dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah [2]: 153, ia berpendapat bahwa dalam sabar dan shalat kita diperintahkan Allah untuk berdoa memohon pertolongan kepada-Nya. Dan yakinilah bahwa Allah Zat yang Maha Pengabul doa.

Kedua, jadilah hamba yang khusyu’ hatinya, yaitu mereka yang menyakini bahwa segala bermula dari Allah dan kepada-Nya segala sesuatu akan kembali, seraya mengatakan innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allah mewanti-wanti, bahwa sabar adalah perbuatan yang sulit dilakukan, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” (QS. Al-Baqarah [2]: 45)

Keinsyafan bahwa kesabaran harus hadir dalam setiap saat, duka maupun suka, adalah sikap yang akan menjadikan kita selalu mawas juga terjaga, bila derita yang sedang kita hadapi, bersabarlah. Sebab boleh jadi itu pertanda (ujian) derajat kita akan dinaikkan. Sebaliknya, jika kenikmatan yang sedang kita rasakan, bersabarlah. Boleh jadi itu adalah ujian kesanggupan kita mensyukuri apa yang Allah berikan. Sebab, jika kufur, kenikmatan itu sewaktu-waktu bisa berupah menjadi petaka.

Akhirnya, mari kita merengkuh sabar dalam setiap aktifitas kita. Yakinlah bahwa sabar tak berbatas. Tak ada akhir dari kesabaran. insyaAllah Zat Yang Maha Sabar akan senantiasa bersama dan menolong kita yang sabar. Semoga. Wallahu’alam Bissawab.

Salam Powerful…!



Leave a Reply