Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Fundamentalisme Islam

Judul buku     : Hassan Hanafi Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam
Penerbit         : Yogyakarta: Islamika, 2003
Tebal Buku    : xiv + 368; 15 x 22,5 cm
Alih Bahasa  : Kamran As’ad Irsyady, Mufliha Wijayati
 

Autobiografi Hassan Hanafi bagaikan sebuah album di mana seakan-akan masa lalu dan masa kini hendak dirangkum. Sebuah album yang hendak memperlihatkan guratan-guratan sejarah masyarakat Arab abad ke-20 dengan pelbagai problematikanya.

Setidaknya daya tarik dari buku yang ditulis Hassan Hanafi ini adalah usahanya untuk mengklarifikasi pandangan umum yang berkembang tentang gerakan Fundamentalisme Islam. Fundamentalisme Islam yang sarat dengan anarkisme, a priori terhadap modernitas, ekstremisme, dan eksklusivisme. Hanafi membongkar kembali sejarah kelahiran gerakan tersebut, sehingga dapat dilihat seobjektif mungkin dengan merujuk pada akar permasalahan.

Sebagai seorang ikhwan (sebutan untuk laki-laki bagi anggota Ikhwanul Muslimin), Hanafi berupaya mengangkat konflik antara Ikhwanul Muslimin dengan Rezim Revolusi Mesir yang kurang lebih terjadi dalam kurun waktu tiga puluh tahun. Pandangannya mengenai fenomena serta fakta yang terjadi menempatkannyasebagai seorang fenomenolog.

Penelitian yang dilakukan Hanafi mengenai gerakan Fundamentalisme Islam menggunakan analisis atas pengalaman-pengalaman personal dan sosial yang bisa dirasakan oleh semua orang, bahkan mereka juga bisa ikut andil dan menyetujuinya.

Hassan Hanafi sengaja tidak menggunakan teori-teori sosial tentang pertumbuhan-pertumbuhan organisasi-organisasi keagamaan menurut pendekatan disiplin sosiologi Barat. Dengan pertimbangan taktis agar tidak berkutat pada teori-teori tersebut, sehingga mengaburkan esensi permasalahan yang ingin dibahas.

Hal yang terpenting menurut Hanafi adalah menjaga kelugasan perspektif, kebenaran masalah, kejujuran analisis, obyektivitas penilaian, dan komprehensivitas pandangan tanpa memperhatikan sikap dan pertimbangan politis serta opsi-opsi pemikiran. (hal. 114)

Hassan Hanafi berpandangan bahwa terbitnya gerakan Fundamentalisme Islam bukan disebabkan oleh ketidakmampunannya berpartisipasi dalam menghadapi modernitas, melainkan ada karena sikap perlawanan tehadap tirani penguasa dan penjajahan.

Mengkaji ulang pemaknaan sempit—sikap fanatisme, berwawasan sempit, menolak dialog, dan menutup diri (eksklusif)–terhadap gerakan Fundamentalisme Islam merupakan sebuah urgensi. Karena pandangan demikian menghasilkan pemahaman yang tidak adil terhadap gerakan tersebut.

Dapat dilihat, banyak tokoh yang menjadi representasi dari gerakan Fundamentalisme Islam yang dikenal sebagai pemikir liberal, rasionalis, berwawasan luas, menguasai sejarah bangsa-bangsa dunia, menerima tantangan zaman, terbuka pada peradaban-peradaban modern, bahkan menulis tentang toleransi dan kerja sama, serta menyerukan persaudaraan dan cinta kasih. (hal. 109)

Kiranya, tidak adil menilai sepihak gerakan Fundamentalisme Islam sebagai gerakan yang kontramodernitas serta memiliki kekolotan dalam berfikir. Sebab latar belakang sejarah kelahirannya pun bukan sikap anti terhadap perkembangan zaman melainkan sikap nasionalisme dan patriotisme pada bangsa dan tanah air.

Bukti nyata bahwa Fundamentalisme Islam lahir bukan sikap anti-modernitas adalah adanya gerakan-gerakan kemerdekaan sebagaimana yang terdapat di Sudan, Libya, Mesir, Tunis, Aljazair, Palestina, dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya. (hal. 110)

Dengan demikian, Fundamentalisme Islam atau juga sering disebut dengan salafiah tidak terlahir dari rahim abad sekarang. Sebagaimana klaim reaktif Barat yang kiranya tak begitu mampu memahami sejarah Islam secara menyeluruh. Barat umumnya memahami bahawa Fundamentalisme Islam lahir sejak meletusnya gerakan revolusi Iran, berani matinya pejuang Afganistan menghadapi invansi Uni Soviet, munculnya Gerakan Amal (evangelis) berhaluan Syiah yang dipimpin oleh Imam Musa as-Sadar di Lebanon.

Demikian pula dengan maraknya gerakan-gerakan sufisme dan tarekat di tengah-tengah komunitas muslim Eropa Timur, bangkitnya gerakan revitalisasi Islam di republik-republik muslim di Uni Soviet, tampilnya Islam di percaturan politik di Malaysia, Indonesia, dan Filipina, serta diikuti dengan semaraknya busana muslim, dan aksi-aksi keislaman lainnya dianggap sebagai lahirnya gerakan tersebut.

Fundamentalisme Islam atau salafiah telah eksis seusia sejarah Islam. Ia mempunyai nostalgia sejarah, akar pemikiran, dan bahkan letupan-letupan politik.  Gerakan ini memiliki kondisi psikologis dan sosial yang terus berulang di setiap masa sehingga ia bergerak dinamis; sejak Islam Ahmad Hambal, Ibn Taymiyah, dilanjutkan  murid kesayangannnya, Ibn al-Qayyim al-Jauziah sampai gerakan-gerakan Islam kontemporer. (hal. 111)

Intrik-intrik politik gerakan fundamentalisme islam di masa modern juga dilakukan di Hizb at-Tabrir al-Islami (Partai Pembebasan Islam) oleh Saleh Sirriyyah hingga berhasil menduduki Akademi Teknik Meliter di Mesir pada tahun 1974, sampai eksekusi atas Anwar Sadat di tangan Jama’ah al-Jihad pada Oktober 1981.

Cara memahami gerakan Fundamentalisme Islam pun ternyata tak terbatas pada pandangan bahwa ia hanyalah militansi ritual serta ferforma luar. Bahkan ia sama sekali tidak identik dengan gambar kalikatural; berjenggot panjang, mengenakan hijab, menuntut penerapan syariat Islam, mendirikan negara Islam, dan membangun masjid.

Dengan menarik akar sejarah ke permukaan, Hassan Hanafi ingin mengetengahkan fenomena gerakan Fundamentalisme Islam yang kini dipahami secara keliru oleh dunia Barat. Kiranya juga hal ini penting untuk meluruskan kembali Khitah pergerakan Islam saat ini. Karena Islam tertuduh sebagai penjahat kemanusiaan dengan menebar teror-teror yang meresahkan.

Meskipun buku ini tak dapat mewakili gerakan-gerakan Islam yang beraneka ragam, paling tidak menjadi kaca perbandingan bagi gerakan Islam lainnya. Dengan mengambil gerakan Ikhwanul Muslimin sebagai fokus kajian; sebuah gerakan perjuangan di Mesir yang mengalami pergeseran orientasi. Pergeseran itulah yang tampaknya turut mempengaruhi corak perjuangan gerakan-gerakan Islam yang berkembang di kemudian hari.

Buku ini layak dibaca oleh semua kalangan—muslim atau pun non-muslim—sehingga kesalahpahaman selama ini dapat diakhiri. Dengan demikian, segala bentuk konflik yang terjadi dapat terselesaikan dengan cara-cara damai dan tentunya memperhatikan kesejahteraan umat manusia.

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org 
 



Leave a Reply