Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Dua Kata Ajaib

Dua Kata Ajaib

Saat khilaf berbuat salah, mungkin menyakiti hati orang lain jangan sungkan mengakui dan segera meminta maaf. Pun ada kalanya kebaikan didapat dari orang lain jangan lupa berterimakasih. Kadang cukup sulit mengucap maaf, gengsi dan merasa benar adalah musabab yang sering menjadikannya semakin sulit untuk dipraktekkan. Sementara sungkan bertemikasih adalah bentuk lain dari kesombongan dan hilangnya syukur atas kebaikan yang sudah kita dapat.

Pernah ketika kuliah dulu, saya mempraktekkan dua kata ajaib ini; maaf dan terimakasih. Hasilnya luar biasa, masalah yang ada berhasil diselesaikan dengan baik, juga melegakan semua pihak. Suatu ketika saya dihubungi oleh seorang senior yang katanya disambangi oleh pemilik kos sekretariat di mana adik-adik mahasiswa kami tinggal. Pemilik kos itu ‘marah-marah’ pada senior yang kebetulan tempat tinggalnya tak jauh dari sekretariat itu. Pemilik kos menceritakan ‘sikap tak baik’ adik-adik kami. Selain telat membayar kos, mereka juga mencoret-coret dinding rumah kos itu, ujar sang pemilik.

Celakanya, tak ada satu orang pun dari mereka yang ‘menghadap’. Seperti kucing-kucingan dengan pemilik kos. Lebih berang lagi, pemilik kos tidak terima karena dinding dalam rumah kos dipenuhi coretan yang tak sedap dibaca; kira-kira penghuni kebun binatang pindah semua ke dinding rumah kos itu. Bagi pemilik kos, coretan diding itu harusnya tak layak itu ditulis oleh seseorang yang menyandang gelar mahasiswa. Dan entah karena sudah terlalu jengkel atau terlalu bersemangat, pemilik kos jadi terkesan ‘ngomel’ dan marah-marah pada sang senior.

Mendengar cerita itu, saya segera mengumpulkan sahabat-sahabat yang tinggal di sekret untuk bersama merundingkan perihal itu kepada pemilik kos. Cukup banyak yang ikut waktu itu, sehingga beranda rumah pemilik kos tak cukup menampung kami. Tentu sudah terbayang suasananya saat itu. Ya, Semua pihak mempertahankan ‘kebenaranya’ masing-masing. Mahasiswa menganggap punya alasan sendiri melakukan itu, mereka marah karena pemilik kos ‘menyandera’ dengan merantai salah satu motor milik mereka yang di parkir di depan rumah kos. Pemilik kos, membela diri dengan mengemukakan alasannya mengapa melakukan itu.

Saya memang lebih banyak diam dan mendengarkan saat perdebatan itu berlangsung. Akhirnya saya memutuskan untuk bicara. Kalimat pertama yang saya ucapkan waktu itu, kira-kira begini, ‘Bapak, Ibu, pertama saya atas nama sahabat-sahabat ini minta maaf’, belum selesai saya bicara Bapak kos langsung memotong ucapan saya, dengan mengatakan, ‘nah ini yang saya tunggu dari tadi (kata maaf)’, kemudian beliau melanjutkan dan bicara pada istrinya yang masih marah-marah, ‘Bu sudah bu, mereka sudah minta maaf’.

Setelah minta maaf dan berjanji untuk merapihkan kembali kondisi rumah kos, tak lupa saya berterimakasih pada pemilik kos atas semua nasehat yang kami dapat malam itu. ‘Mungkin kalau tidak ada kejadian ini, kami tidak dapat nasehat luar biasa dari Bapak, di kuliah kami tak dapat ini’, ujar saya mencaikan suasana. Semula pemilik kos yang meminta uang ganti untuk batas waktu yang lewat pembayan kos yang cukup besar dapat kami bicarakan dan alhamdulillah mendapat keringanan.

Maaf dan terimakasih adalah dua kata ajaib yang mampu mengembalilkan suasana menjadi normal kembali. Permintaan maaf saya kepada pemilik kos meredakan amarahnya dan luar biasa beliaupun tak lupa melakukan hal serupa, meminta maaf karena telah memarah-marahi kami. Luar biasa bukan? Tentu saja kedua kata itu harus diucapkan secara tulus dari hati yang terdalam, tanpa itu dia tak merubah apa-apa. Bahkan mungkin memperburuk keadaan. ‘Ucapan yang datang dari hati akan sampai ke hati. Sementara kata yang hanya keluar dari bibir sekedar sampai ke telinga’. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org



Leave a Reply