Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Masakan Mama

Masakan Mama

Ada satu hal yang membuat saya selalu rindu ingin pulang ke rumah adalah rendang buatan mama. Saat liburan sudah tiba, biasanya sebelum pulang saya memesan untuk dibuatkan salah satu makanan pavorit saya itu. Itu menjadi masakan wajib yang selalu ada ketika musim mudik tiba. Jika ditanya apa yang membuatmu rindu rumah, itu jawaban saya. Sekarang, apa jawaban Anda?

Seorang ibu, tentu saja bahagia bila ada yang dirinudkan dari dirinya. Tentu saja itu membuatnya semakin berarti. Bahwa keberadaannya tidaklah sia-sia. Tapi pernahkah, kita mendengar ada anak  atau anggota keluarga lainnya lebih senang di luar rumah. Tidak ada ‘sebuah alasan’ untuk dirinya tertarik pulang dan berkumpul dengan keluarga? Tidak ada sesuatu yang dirindukan yang mendorong untuk pulang.

Ibu saya, menurut cerita adik-adik saya, selalu bilang pada mereka, ‘jangan dihabiskan ini rendanya buat kakak’. Mama tau betul bahwa anaknya akan merasa senang bila sesuatu yang dirindukan oleh anaknya dihadirkan. Akhirnya, bagi saya, ini bukan lagi persoalan rendang atau masakan. Ini adalah persoalan kasih sayang, ini adalah terkait dengan perhatian seorang ibu pada anaknya. Perhatian itu diterjemahkannya melalui apa saja yang menjadikan anaknya bahagia. Salah satunya lewat masakan.

Harus kita sadari, bahwa ibu adalah ‘sekolah pertama’ bagi seorang anak. Maka, memberi magnet agar merasa nyaman dan butuh untuk pulang ke rumah pada seorang anak, merupakan sebuah perkerjaan rumah yang harus dipikirkan bersama, tentu bukan hanya tugas ibu, tapi ayah juga memiliki peran yang harusnya juga lebih besar. Tapi ada juga lho, ternyata malah ayah yang enggan pulang ke rumah. Maka dengan penuh hormat dan rasa bangga, saya mengatakan bahwa ibu memiliki peran yang sangat luar biasa menciptakan lingkungan rumah yang nyaman. Jadi sebagai ‘sekolah pertama’, ibu tidak hanya penting kehadirannya bagi anak-anaknya, tapi juga bagi para suami.

Kita bisa menyaksikan, betapa seorang anak yang lepas dari bimbingan ‘rumah’, akan jauh lebih sulit dikontrol dibanding mereka yang menjadikan rumah sebagai ‘surganya’. Rumah adalah tempat kembali, tempat beristirahat, dan tempat berbagi. Seorang anak yang merasa nyaman di rumah akan menempatkan figur ibu dan ayah sebagai sosok yang istimewa. Ibu, Ayah, tentu tak perlu risau, karena kalian adalah tempat mereka untuk berbagi. Sehingga setiap persoalan yang dihadapi anak-anak, kita bisa ikut memberi solusi positif untuk menyelesaikannya.

Menjadikan rumah sebagai surga, tak lantas melulu bahwa kita harus berada di rumah. Sebab pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana kami-kami ini yang merantau jauh dari rumah? Apakah itu artinya kami jauh dari pendidikan rumah? Bukan itu maksudnya, menjadikan rumah sebagai tempat kembali sesungguhnya adalah sikap untuk menempatkan nilai-nilai baik yang diperoleh di rumah, dari ibu sebagai ‘sekolah pertama’ untuk diri kita dalam menjalankan hidup di rantau (di luar rumah). Nilai-nilai dan pelajaran berharga di rumah akan melekat dan terasa jika ada satu alasan yang membuat kita selalu rindu pada rumah itu sendiri. Sehingga setiap kali kita jauh dari nilai-nilai, kita akan kembali terjaga saat ingatan kita terbang ke rumah.

Untuk itu, bagi para orang tua, khususnya ibu, menciptakan rumah nyaman dan layak dirindukan adalah sebuah keharusan. Ciptakan alasan bagi seluruh penghuni rumah untuk selalu rindu untuk pulang. Seperti ibu saya, yang selalu menyajikan rendang sebagai menu wajib yang menyambut kepulangan anaknya dari rantau. Akhirnya, sekali lagi, ini bukan sekedar perkara rendang. Ini adalah perlambang cinta kasih seorang ibu pada anaknya. Jadi, para ibu, jangan bosen memasak, menemukan makanan kesukaan anggota keluarga. Sebab itu salah satu yang membuat mereka selalu merindukanmu. Merindukan rumah. Wallahu ‘Alam Bissawab.

 

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org



Leave a Reply