Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Bersyukur Dan Ikhtiar

Bersyukur Dan Ikhtiar

Syukur itu dinamis. Tambahan nikmat yang dijanjikan Allah pada mereka yang bersyukur adalah buah dari ikhtiar yang dilakukan dalam syukur itu. Ikhtiar itu sendiri sebagai bukti dari syukur seorang hamba. Tanpa ikhtiar, tambahan yang dijanjikan mungkin tidak pernah sampai ke tangan kita. Sebab, Allah juga dalam al-Quran memiliki klausul yang yang tak mungkin diingkari-Nya, yaitu bahwa Dia tidak akan merubah nasib satu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengusahakan perubahan pada diri mereka.

Jadi, tanpa ikhtiar kiranya nikmat yang sejatinya sudah Allah sediakan akan jauh panggang dari api. Prinsipnya adalah, Allah menyediakan dan kita menjemputnya. Tanpa dijemput (ikhtiar) nikmat hanya menjadi stok yang tersimpan di gudang dan sangat mungkin akan kadaluarsa, lalu tak bisa dinikmati lagi oleh kita. Atau bisa jadi digantikan untuk orang lain yang ikhtiarnya lebih kuat dari pada kita.

Bersykur dengan yang dimiliki tak seharusnya membuat seseorang berhenti berusaha mendapatkan lebih. Seseorang hanya disebut si penghemat jika hanya menggunakan secara pas-pasan apa yang ia miliki tanpa menambahnya sesuai dengan kebutuhan yang semakin meningkat. Bukankah ‘menyiksa’, bahwa kebutuhan semakin banyak namun kemampuan untuk memenuhinya (membeli) tidak kita miliki?

Bersyukur kemudian memasrahkan diri dengan hanya menikmati apa yang kita miliki tanpa melakukan ikhtiar-ikhtiar untuk memaksimalkan pendapatan lebih untuk kelangsungan hidup dan perjuangan, lebih tampak seperti orang yang kalah dan menyerah pada keadaan. Berserah diri atau memasrahkan hidup kepada Allah bukan berarti tanpa ikhtiar.

Cerita seorang sahabat dengan untanya, mungkin menjadi contoh menarik untuk menggambarkan betapa ikhtiar menjadi sesuatu yang mesti dilakukan untuk menjemput rezeki yang sudah Allah sediakan di seluruh alam ini.

Suatu hari seseorang yang hendak menemui Rasulullah saw. membiarkan unta tunggangannya begitu saja, tanpa diikat terlebih dahulu. Melihat itu, Rasulullah saw menegurnya dan bertanya mengapa ia melakukan itu? Sahabat pemilik unta itu menjawab bahwa ia membiarkan tunggangannya tanpa diikat, sebab ia bertawakal kepada Allah. Nabi menjelaskan cara tawakal yang benar adalah dengan mengikat unta itu lalu barulah bertawakal kepada-Nya.

Cerita ini, sekali lagi mengajarkan betapa bertawakal pada Allah tak serta-merta terjadi begitu saja. Sikap ini harus didahului oleh sikap lainnya, yaitu ikhtiar. Pun dengan syukur, berterimakasih dengan apa yang didapat dan miliki adalah sebuah keniscayaan, bahkan begitulah seharusnya agar nikmat itu ditambah. Namun, tambahan nikmat hanya akan diperoleh bila mana ikhtiar menjadi sikap lanjutan yang tak ditinggalkan. Akhirnya, mari bersyukur dan terus berikhtiar. Semoga Allah senantiasa menambah dan menjaga nikmatnya untuk kita. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke https://www.facebook.com/julmansyah.putra dan http://jujulmaman.blogspot.com
 



Leave a Reply