Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Karir Bunda (Bag. 2 Selesai)

Karir Bunda (Bag. 2 Selesai)

Tugas penting seorang bunda yang lain adalah menjadi pendidik bagi anaknya. Kesalahan kita berikutnya adalah menganggap bahwa, tugas mendidik bunda sekedar memastikan kebutuhan pendidikan anak terpenuhi, misalnya mengantar mereka ke sekolah, menyiapkan pakaian, mengontrol PR dan sebagainya. Padahal, lebih dari itu, misalnya saat bunda memperlakukan asisten rumah tangga dengan baik, sejatinya anak kita sedang belajar bagaimana berempati dengan sesama.

Atau, bagi bunda yang belum memiliki asisten rumah, sesungguhnya untuk bunda tersedia lebih banyak kesempatan untuk mendidik anak. Lho kok bisa? Padahal tidak ada asisten artinya tidak ada yang membantu, itu artinya seluruh pekerjaan teknis rumah dikerjakan tangan bunda sendiri. Bisa bunda. Memang tidak mudah, namanya juga ‘berkarir’ tentu butuh ikhtiar yang kuat dan kesabaran yang ekstra.

Caranya adalah dengan melibatkan anak dalam pekerjaan kita. Misalnya saat membersihkan lantai, biasanya bunda sibuk berteriak, ‘kakak, permisi dulu dong, bunda lagi kerja nih’, ‘kakak itu lantai masih basah, jangan diinjak nanti kotor lagi’, dan sebagainya. Tapi saat bunda memberikan peran pada anak untuk ikut membersihkan lantai, atau pekerjaan rumah lainnya, pekerjaan akan bisa diselesaikan tanpa harus berteriak-teriak. Nah, pada saat inilah keahlian bunda dibutuhkan, tidak mudah memang mengajak anak untuk membantu. Ini sekali lagi menunjukkan betapa berkarir sebagai bunda itu bukan perkara mudah.

Bagi saya, karir sebagai ibu rumah tangga itu bukan perkara remeh-temeh. Itu tugas berat dan mungkin para ayah belum tentu sanggup mengembannya. Setidaknya belum tentu ‘mau’ memilihnya sebagai karir. Bunda, sebagai manager dituntut memahami ilmu managemen, meski tak harus serumit seperti apa yang dipelajari saat kuliah. Cukup mengikuti naluri keibuan saja dan sedikit membaca informasi penting bagaimana seharusnya mengelola rumah dengan baik.

Maka, seharusnya, sekali lagi ini idealnya, istri tak boleh disibukkan dengan hal ikhal yang terlalu teknis, cuci pakaian, nyetrika, sampu dan ngepel lantai, cuci piring, dan sebagainya. Berbeda dengan memasak, menurut saya itu hal penting, sebab masakan bunda tentu bernilai berbeda bagi anggota keluarga. Baca Masakan Mama. Perkara yang teknis itu adalah tugas suami untuk mencarikan asistem rumah tangga. Sehingga fokus bunda adalah pada karirnya, yaitu menjadi manager rumah tangga dan pendidik bagi anaknya. Dua karir itu adalah posisi strategis luar biasa, bayarannya surga.

Kadang kita lupa, bahwa bekerja tak selalu soal bayaran berupa materi, tak selamanya soal pangkat atau jabatan tertentu. Bukankah jika ditanya, untuk apa anda bekerja, jawaban yang selalu muncul adalah untuk kebahagiaan keluarga. Apakah itu betul sudah kita lakukan? Atau justru kita malah menjauh dari keluarga, dari anggota keluarga yang sejatinya membutuhkan kehadiran kita.

Penting dipahami bahwa kehadiran bunda di rumah adalah kerja yang luar biasa, profesi mulia. Bayaranmu bukan hanya uang, tapi langsung fokus pada salah satu manfaat dari uang itu sendiri, yaitu kebahagiaan. Bukankah kita sepakat, uang hanya salah satu alat menuju bahagia, dan itu sebabnya kita bekerja, untuk uang, untuk kebahagiaan. Tapi berkarir sebagai ibu rumah tangga, bunda tak perlu lagi perantara itu, bunda langsung merasakan kebahagiaan itu. Lihat anak kita tersenyum bahagia saat kita hadir untuk menemani mereka bermain. Bayangkan bangganya suami saat lelah dengan pekerjaannya, tiba-tiba merasa nyaman ketika sampai di rumah.

Akhirnya, setiap pilihan, entah memilih berkarir di luar atau di dalam rumah, semuanya memiliki konsekuensinya. Tak ada pilihan yang tak beresiko. Namun, bijak menentukan pilihan adalah kuncinya. Bunda yang paling memahami apa sesungguhnya alasan bunda memilih ini dan itu. Semoga apapun yang dipilih mendatangkan kebaikan untuk keluarga. Wallahu A’lam Bissawab.

Salam Powerful…!

 

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org dan http://jujulmaman.blogspot.com



No Comments

Trackbacks/Pingbacks

  1. Karir Bunda (Bag. 1) | Julmansyah Putra - […] Lanjutan Karir Bunda (Bag. 2) […]

Leave a Reply