Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Kehadiran Ayah (Bag. 3 Selesai)

Kehadiran Ayah (Bag. 3 Selesai)

Ketiga, hadir itu membukakan dunia.  Membuka dunia berarti memberikan gambaran untuh tentang masa depan. Tentang realita dan kerasnya dunia. Tentang pilihan-pilihan dalam hidup dan konsekuensi-konsekuensi logis yang lahir sebagai buahnya. Tentang bagaimana memberikan motivasi bagaimana seorang anak menemukan passionnya dan menjalani hidup sesuai passionnya itu. Ayah yang hadir adalah dia yang bersama-sama anaknya menghantarkan apa yang menjadi mimpi sang anak, bukan malah memaksakan mimpinya sendiri pada anaknya.

Kasus yang biasa saya dapati adalah saat anak hendak masuk Perguruan Tinggi, kuliah. Biasanya campur tangan orang tua cukup dominan. Anak maunya masuk di perguruan tinggi A misalnya, atau memilih jurusan ini misalnya. Tapi orang tua, biasanya ayah justru memilihkan yang lain, sesuai ingin sang ayah. Tanpa sadar sebetulnya ayah sedang memasukkan anak kedalam dunianya, bukan membuka dunia sesungguhnya. Wajar bila kita mendapati saat anak kuliah mengikuti pilihan ayahnya, ia hilang tanggung jawab pada kuliahnya. Mungkin jarang masuk kuliah, lebur dalam lingkungan negatif, dan sebagainya.

Namun, tak lantas, apa yang menjadi pertimbangan ayah itu selamanya buruk. Tidak, sekali lagi tidak. Anak perlu sadar bahwa, ayah ingin yang terbaik buat anaknya. Celakanya, ini dilakukan dengan cara yang kurang bijaksana, yaitu memaksakan kehendak ayah tanpa mendengar maunya anak. Masih ingat tips pertama bagaimana ayah yang hadir? Ya, ayah yang hadir itu bersedia mendengarkan.

Lalu apa yang harus ayah lakukan untuk membuka dunia bagi anaknya? Kembali pada poin pertama pembahasan ini, bahwa ayah yang hadir adalah dia yang bersedia mendengakan anaknya. Itu menjadi pintu masuk agar ayah mengenali potensi yang dimiliki anaknya. Berkomunikasi adalah cara paling purba manusia untuk saling memahami. Setelah tahu, tentu saja tugas selanjutnya adalah memfasilitasi bakat sang anak dengan kegiatan dan sarana penunjang yang positif.

Cara yang cukup unik, tapi menarik adalah yang dipraktekkan pak Jamil Azzaini, yaitu dengan membiasakan membuat proposal hidup, tidak hanya bagi dirinya tapi untuk seluruh anggota keluarga. Bagi saya ini salah satu cara agar ayah tahu apa yang menjadi keinginan sang anak, bagaimana ia melakukannya, dan lebih penting adalah, peran apa yang harus dimainkan oleh ayah untuk turut serta mensukseskan proposal hidup sang anak. Sekali lagi bagi saya ini yang disebut dengan membuka pandangan anak tentang dunia yang sesungguhnya.

Tugas untuk hadir secara utuh dalam mendidik anak tentu bukan semata tanggung jawab ayah, ibu memaninkan peran yang tak kalah pentingnya. Namun, bagaimanapun, dalam kultur masyarakat yang patriarki, biasanya ayah memainkan peran sentral dalam mengelola keluarga. Perkataan atau perintah ayah lebih banyak ‘ditakuti’ dan diikuti anak-anaknya. Maka, kualitas seorang ayah yang hadir mutlak dibutuhkan dalam mendidik anak.

Akhirnya, berbekal tiga tips di atas; hadir itu bersedia mendengarkan, hadir itu menjadi role model, dan hadir itu membukakan dunia bagi anak-anaknya, dapat menjadi inspirasi untuk menjamin kualitas kehadiran para ayah. Selamat menjadi ayah yang hadir. Selamat menjadi ayah yang cerdas. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org dan http://jujulmaman.blogspot.com
 



No Comments

Trackbacks/Pingbacks

  1. Kehadiran Ayah (Bag. 2) | Julmansyah Putra - […] Lanjutan Kehadiran Ayah (Bag. 3 selesai) […]
  2. Merespon Kesalahan Anak (Bag. 2 Selesai) | Julmansyah Putra - […] dampak dari apa yang ia lakukan. Serupa ketika seorang ayah membukakan dunia anaknya (baca Kehadiran Ayah), ia harus menunjukkan…

Leave a Reply