Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Belajar Dari Kesalahan (Bag. 1)

Belajar Dari Kesalahan (Bag. 1)

Salah seorang sahabat baik saya bertanya tentang bagaimana cara melatih agar anak bisa belajar dari kesalahannya. Pertanyaan itu muncul saat saya menulis di status facebook, ‘Latih anak untuk juga belajar dari kesalahannya. Bukan sekedar memarahi atau melarang agar tak pernah melakukan kesalahan.’ Anak, apalagi masih dalam masa kanak-kanak sering kali tak hirau pada sesuatu yang menarik perhatiannya, sekalipun itu membahayakan dirinya. Tapi justru kadang ada banyak pelajaran dari situ jika orang tua mampu menyikapinya dengan baik.

Guru saya pernah bercerita tentang cucu kecilnya yang mencoba untuk memegang sebuah lilin yang menyala. Sang cucu yang meski sudah dilarang untuk tidak memainkan lilin akhirnya terkena apinya juga. Peristiwa itu membuatnya ‘kapok’ dan tak mau lagi mengulanginya. Ia belajar bahwa api itu panas oleh karena tak boleh dipegang.

Melatih anak dari kesalahannya dalam konteks anak usia balita adalah cukup dengan tidak memarahinya. Sekali lagi dengan tidak memarahinya. Celakanya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Maka tak jarang kita mendengar, atau bahkan saya tanpa sadar juga masih sering melakukannya, ‘tukan, apa daddy bilang sakitkan?’, ‘rasain sendiri, nggak usah cengeng ah, makanya dengerin kalau orang tua bicara’, dan seterusnya. Alih-alih menghibur si anak yang sudah terjatuh dan membesarkan hatinya, sering yang terjadi justru sebaliknya, yaitu memarahinya. Akibatnya, dia tak pernah belajar apa-apa dari kesalahannya. Anak sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Jadi, bagi anak yang masih kecil agar ia bisa belajar dari kesalahannya cukup dengan tidak memberi respon negatif terhadapnya, salah satunya adalah dengan memarahinya. Kemarahan orang tua hanya akan membuatnya semakin sedih. Dalam kasus anak yang sudah bisa diajak berkomunikasi, orang tua perlu memberikan penjelasan terhadap apa yang terjadi. Lebih baik saat keadaan sudah kembali tenang, baik keaadaan si anak ataupun orang tuanya.

Istri saya misalnya biasanya melakukan itu, suatu sore gadis kecil saya berebut tempat menaruh sedal dengan temannya. Temannya yang saat itu sudah duluan menaruh sandal di situ oleh anak saya ingin direbut tempatnya. Saya yang kebetulan melihat melarang dan membela temannya dan mengatakan, ‘kakak di sebalah sana naruh sendalnya’, di sini sudah ada yang nempatin’. Anak saya tidak terima dan menangis sejadi-jadinya. Tapi saya tidak mengikuti maunya.

Setelah di rumah, setelah tangisnya pun reda, istri saya menjelaskan pokok persoalan dengan memulai sebuah pertanyaan, ‘tadi kenapa menangis?’ ‘memangnya siapa duluan yang naruh sandal di sana?’. Istri saya melanjutkkan, ‘nak, kalau sudah ada yang duluan nggak boleh nyerobot, sama teman harus saling berbagi. Kalau mau narus sandal di situ, kakak harus jadi yang lebih dulu’.

Tak berhenti di situ, istri saya pun mengungkapkan bahwa saat bermain bersama harus berbagi, jika tidak orang lain tidak akan mau bermain bersamanya. ‘Nanti kalau masih begitu, kakak bisa nggak punya temen lho, mau begitu? ‘Nggak’, jawab gadis kecil saya singkat. Mungkin saat itu, si anak tak begitu banyak yang ia bisa cerna, namun setidaknya ia tau bahwa apa yang dilakukannya tidak baik dan tak disukai pula orang tuanya. Untuk anak usia tiga tahun, mungkin itu lumayan.

Lanjutan Belajar Dari Kesalahan (Bag. 2 selesai)

 

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org dan http://jujulmaman.blogspot.com



Leave a Reply