Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Akhirnya Giliran Saya

Akhirnya Giliran Saya

Sulung menahan air matanya agar tak menetes. Selama mendengar cerita Nawi sahabatnya, ia hanya diam, kadang mengangguk-angguk, dan sesekali melihat ke arah mata sahabatnya yang berkaca-kaca. Mungkin jika tak malu, Sulung sudah sedari tadi berderai air mata.

‘Mas, aku belum makan, beras habis’, begitu Nawi mengingat-ingat sms istrinya beberapa bulan lalu. Istri Nawi sendang hamil muda. Ia sendirian di rumah kontrakannya. Nawi siang itu sedang mencari sesuap nasi untuk keluarga kecilnya. Mendapat sms demikian, Nawi meminta istrinya untuk membeli makanan jadi saja ke warung.

‘Aku sudah nggak pegang uang mas’, saut istrinya menjawab anjuran Nawi. Membaca sms balasan itu Nawi tak kuat menahan air matanya. ‘Ana seperti orang yang nggak berguna Lung’, ujarnya pada Sulung yang dari tadi hanya membisu. ‘Itu kenapa ana jarang ikut kumpul dengan yang lain’. ‘Nggak ada post anggarannya Lung’, celetuk Nawi berusaha ingin memecah hening suasana.

Sulung tersenyum, ia salut dengan ketegaran Nawi sahabatnya itu. Dada Sulung sesak mehan tangis, dengan suara yang berat ia berusaha menghibur sahabatnya. ‘Hidup lucu juga ya’, kata Sulung. ‘Nggak pernah terbayang kita akan begini, Menikah, bakal punya anak. Cari nafkah. Kalau dulu kita bergantung sama orangtua, sekarang kita harus urus semuanya sendiri, ngurus istri, ngurus anak-anak nanti.’

Entah bicara apa Sulung, ia bingung memberi respon apa pada cerita sahabatnya Nawi. Sulung benar-benar larut dalam cerita. ‘Yah, sabar ajalah, insyaAllah akhirnya indah’, lanjut Sulung tetap berusaha menghibur.

Malam itu dua sahabat ini banyak bertukar pikiran, bercerita ini dan itu, mulai dari kisah sedih hingga yang lucu-lucu. Keduanya memang sudah lama tidak bertemu. Wajar bila banyak yang mereka bincangkan. Terakhir kali bertemu dua tahun lalu saat menghadiri pesta pernikahan sahabat mereka yang lain.

Cerita Nawi, begitu membekas dalam ingatan Sulung. Ia begitu haru ketika mengingat-ingat cerita sahabatnya, ia selalu ingin menangis. Sulung memang tergolong pria cengeng, dia gampang sekali menangis. Apalagi kalau sudah bicara soal orangtua, kisah persahabatan, dan hal-hal yang bersifat pribadi lainnya. Kadang Sulung sering diledek teman-temannya, ‘muka aja lu serem, gitu aja nangis, cemen’, kata mereka menanggapi kecengengannya.

Beberapa bulan berlalu setelah malam itu, Sulung sibuk dengan aktivitasnya sebagai seorang karyawan di salah satu perusahaan. Dalam sibuknya Sulung masih mengingat-ingat cerita sahabatnya. Kadang ia berbagi cerita itu dengan istrinya. Atau dengan beberapa orang lain sekedar ingin memberi semangat.

Seperti biasa, selepas maghirb menjelang isya, Sulung baru tiba di rumah kontrakannya. ‘Assalamu ‘Alaikum’, ucap Sulung. Tapi tak ada jawaban dari istrinya. Ia lansung saja masuk ke kamar dan melihat istrinya sendang berbaring. di tempat tidur. ‘Lagi apa sayang’, tanya Sulung pada istrinya manja.

Selain cengeng, Sulung juga terkenal romantis, semenjak pacaran ia sering menulis puisi untuk istrinya ini, bahkan salah satu puisinya ia sematkan dalam undangan pernikahannya. Sulung memang romantis. ‘Sayang’, tergur Sulung sekali lagi. Wanita yang tengah mengandung anak pertamanya ini tak menjawab apa-apa, ia diam sembari berbaring membelakanginya.

Sulung terus saja berusaha bersikap manja pada istrinya. Sambil mengganti pakaian, berulang kali ia panggil istrinya dengan kata-kata sayang. Sulung heran, kenpa istrinyanya tak merespon. Padahal ia sengaja mengajak istrinya bercanda. ‘Ah, mungkin ia sedang capek, kan lagi hamil’, Sulung berusaha mengerti.

Istri Sulung juga bekerja sebagai guru Play Group yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Namun, jam kerjanya dari jam tujuh hingga jam lima sore. Jadi wajar jika Sulung berpikiran bahwa istrinya kecapean, jadi mungkin malas dijak bercanda.

‘Sayang’, tegur Sulung sekali lagi. Namun kali ini ia sambil mengelus-elus punggung istrinya. ‘Ada apa?’, Tanya Sulung berusaha menyelidik. ‘Kita makan apa sayang malam ini, kamu masak apa?’, Sulung kembali bertanya. Istrinya tetap diam. Pelan dan samar terdengar istrinya menangis. Dan Sulung semakin heran.

Sulung tahu pasti ada sesuatu. Tak biasanya sang istri bersikap begini. Kini ia lebih serius bertanya kepada istirnya perihal apa yang membuatnya menangis. ‘Kenapa, apa ada yang salah, apa aku buat kesal?, apa kata-kataku menyinggungmu?’, Sulung terus bertanya. Tetapi tetap tak ada jawaban. Tangisan istrinya pun semakin jelas terdengar.

Sulung semakin bingung. Pikirannya tak karuan, bertanya pada dirinya sendiri apa yang salah. Ia coba mengingat-ingat kejadian hari ini. ‘Ah, rasa-rasanya tak ada yang keliru’, ingat Sulung. Akhirnya iapun memutuskan untuk meminta maaf pada istrinya jika ada kata atau sikapnya yang menyakiti rasa.

Untuk beberapa saat keduanya hanya diam. ‘Aku nggak masak’, tiba-tiba suara istrinya parau memecah keheningan. Dengan sabar Sulung bertanya, ‘lho kenapa nggak masak, aku pengen makan masakanmu sayang’. Masih saja Sulung berusaha merayu. Sedikit lega perasaannya karena istinya sudah menyahutinya.

Namun tenang itu tak berlangsung lama, saat istirnya sambil menangis dan berbalik memeluknya dan berkata, ‘beras di rumah habis. Aku nggak bisa masak apa-apa’. ‘Maafkan aku’, lanjut istrinya seraya mengeratkan peluknya.

‘Astaghfirullahalaziem’. Berkali-kali Sulung mengucap istighfar dengan suara bergetar. Ia balas memeluk istrinya semakin erat. Ada rasa bersalah yang luar biasa dalam dirinya. Sulung ingat dengan cerita sahabatnya Nawi beberapa bulan lalu. ‘Akhirnya giliran saya’, ia membatin. ‘Ya, Allah maafkan saya ya Allah’, tak berhenti Sulung berkata dalam hatinya.

Kali ini, Sulung tak kuasa menahan tangis. Air matanya deras mengalir, membasahi pundak istrinya. Sulung berulang kali meminta maaf juga pada istrinya karena lalai sebagai suami. Lebih-lebih ketika ia mengingat bahwa istrinya tengah mengandung. Hati Sulung semakin teriris. ‘Maafkan aku sayang, maafkan aku’, Cuma itu yang terdengar dari bibir Sulung yang bergetar.

Sulung mencium istrinya, mereka kembali berpelukan. Sedikit ada rasa lega setelah ia meluapakan seluruh sesal dan sedihnya. Menangis memang tak lantas menghilangkan masalah, namun setidaknya bisa sedikit menyingkirkan sesak di dada, meski sementara.

Pengalaman hidup seseorang bisa saja terulang kepada yang lain. Boleh jadi hari ini kita menjadi pendengar cerita, bisa jadi besok kita lah yang menjadi aktor dalam narasi kehidupan itu. Malam itu Sulung dan istirnya belajar satu hal, bagaimanapun sulitnya hidup dalam rumah tangga, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Seperti nasehat Sulung pada sahabatnya, semoga semuanya indah pada waktunya. Semoga!

 

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org dan http://jujulmaman.blogspot.com 

Leave a Reply