Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Tiga Jurus Bahagia

Tiga Jurus Bahagia

‘Masih mencari. Belum juga ketemu. Apa definisi bahagia. Mungkin ada yang bisa membantu?’, tulis saya di status facebook. Seorang sahabat menjawab, ‘bahagiaku itu cukup dengan bisa membuat mereka (orangtua) tersenyum dan tidak membuat air mata menetes di pipi ibu dan ayahku yang bersedih karena aku’, demikian tulisanya. Ada pula yang bilang bahagia itu tak punya hutang. Ada lagi yang mengatakan, ‘bahagia itu ya nggak sedih’.

Kebahagiaan mememang sangat personal, sulit menetapkan standar antara satu orang dengan lainnya. Titik temu yang menarik dari ragam komentar tentang kebahagiaan, yaitu semuanya bermuara pada ‘tindakan baik’. Tak ingin melihat orang tuanya menangis, tidak punya hutang, atau tidak bersedih, semuanya adalah tindakan baik. Kebaikan itulah yang melahirkan kebahagiaan. Aristoteles benar ketika mendefiniskan kebahagiaan adalah mencakup aktivitas jiwa manusia yang didasarkan pada keutamaan; itu adalah sifat dan sikap hidup yang baik.

Namun, betapapun suliltnya memaknai bahagia, tetap penting untuk memberikakan ukuran pada kebahagiaan, setidaknya untuk apa yang bisa kita rasakan sendiri. Sehingga kita dapat terus merasakan kualitas bahagia kita, sekaligus memastikan bahwa kualitas hidup kita juga meningkat setiap harinya. Tiga hal berikut bisa digunakan untuk mengukur kebahagiaan diri sendiri. Pertama, perhatikan kualitas niat. Ketika melakukan kebaikan (bekerja, menolong orang lain, dan sebagainya) diniatkan semata karena Allah, maka kita akan merasa ‘enjoy’ melaksanakannya, baik perbuatan itu dihargai orang lain atau tidak, dipuji atau malah disakiti, bahkan ketika tak ada satu orang pun yang melihat kita tetap semangat melakukan kebaikan tersebut.

Sebaliknya, jika melakukan sesuatu hanya karena berharap pengakuan dari sesama manusia; agar dibilang hebat, diaku pintar, dianggap baik, dan sebagainya, maka ketika itu tak didapat, tentu meradanglah kita. Seseorang yang karena ‘bengkok’ niatnya, bisa saja kecewa, putus asa, mungkin ‘ngedumel’ dan marah-marah karena tak sesuai niatnya. Dan bukankah semua itu akan mengurangi kualitas kebahagiaan kita? Maka untuk mengukur kebahagiaan diri sendiri, luruskan kembali niat kita.

Kedua, panjatkan syukur. Janji Allah pada mereka yang bersyukur akan ditambah nimatnya. Bersyukur itu berterima kasih, membalas apa yang sudah didapat dengan cara memanfaatkan dengan sebaik mungkin. Apakah Anda pernah merasa begitu gelisah dan tak enak hati ketika belum mengucap terima kasih pada orang yang menolong Anda? Tak tentang sampai bisa membalas dengan kebaikan serupa?

Begitulah ketika Allah telah memberikan segalanya, lalu kita tak membalas dengan memanfaatkan pemberian itu dengan baik, maka tak pernah ada rasa puas dalam diri, selalu kurang, diberi kesempatan bekerja bukannya semangat malah mengeluh dan malas-malasan. Mental kufur (lawan syukur) seperti ini akan melahirkan hati yang tak tenang. Akhirnya kebahagiaan pun mungkin menjauh atau bahkan hilang dari kehidupan kita.

Tiga,  untuk mengukur kebahagiaan perlu terus menjalin silaturahim (komunikasi). Bagaimanapun hidup ini membutuhkan orang lain. Tak ada yang mampu mengelak dari proses yang paling purba ini. Kita semua berkomunikasi, bahkan saat mulut tertutup sekalipun, mungkin raut wajah berbicara lain. Itulah komunikasi. Sederhananya, komunikasi itu apa yang kita ucapkan atau apa yang kita tunjukkan dalam tindakan. Penerimaan orang lain atau lingkungan akan sangat bergantung pada hal ini. Apakah Anda ingin bersahabat dengan orang yang perkataannya selalu menyakiti perasaan? Atau sikapnya selalu merendahkan Anda? Anda tau jawabnya.

Sekarang bayangkan bila tak ada seorangpun mau berteman dengan Anda karena kualitas komunikasi anda buruk. Anda bahagia? Ada orang yang rela berhenti dari pekerjaannya hanya karena sering melihat atasannya marah-marah (meskipun bukan ia yang dimarahi). Bayangkan seandainya Anda adalah atasan itu, dan seluruh karyawan Anda satu persatu mengundurkan diri. Apakah Anda bahagia? Jadi begitulah komunikasi juga penting untuk diperhatikan dalam menjaga kualitas kebahagiaan.

Akhirnya, meski sulit mengukur bahagia, namun setidaknya kita bisa melihat kualitas kebahagiaan diri dan berusaha terus meningkatkannya dengan memperhatikan tiga hal tadi yaitu dengan luruskan niat, panjatkan syukur, dan jalin komunikasi. Agar lebih mudah mengingatnya disingkat saja dengan LPJ. Semoga kita adalah orang-orang yang selalu bahagia dan menularkannya pada orang lain. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org dan http://jujulmaman.blogspot.com



Leave a Reply