Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Fitrah Anak

Fitrah Anak

Jika seorang anak itu terlahir dalam keadaan suci (fitrah), apakah pantas kita orangtua ‘menghitamkannya’? dan bila anak adalah titipan, apakah layak saat kita kembalikan dirinya tak sesuci sebagaimana terlahir dulu?

Bagi saya, fitrah bisa juga bermakna ‘unik’, bahwa setiap anak terlahir dengan kelebihannya masing-masing. Mereka adalah ciptaan yang sempurna, mereka spesial, sebab dari seluruh manusia yang berkesempatan menikmati indahnya dunia tak satupun yang ‘sama’. Maka memfasilitasi ‘keunikan’ itu agar terasah dan terjaga adalah tugas mulia setiap orangtua.

Adalah Kahlil Gibran dengan sangat baik menuturkan bagaimana mestinya orangtua mendidik anaknya. Berikut semoga bisa dijadikan sebagai renungan bagi kita orangtua.

***

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

atau pun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

Dia merentangkanmu dengan kuasa-Nya,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantap.

***

Begitulah, kesadaran yang harus selalu tertanam dalam diri setiap orangtua bahwa anak adalah titipan. Mereka bukanlah miliki kita. Dan alangkah tak pantasnya jika kita mengaku-aku, merasa memiliki, sehingga kadang atas nama ‘cinta dan kasih sayang’, kita justru mengorbankan hidup sang anak. Semoga kita bisa mengembalikan anak-anak kita tetap dalam keadaan fitrah sebagaimana saat mereka terlahir ke dunia. Wallhu ‘alam Bissawab

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org dan http://jujulmaman.blogspot.com 



4 Comments

  1. Knp referensinya kahlil gibran ?? bukan yg lebih ilmiah sperti DR.j.Robinson..atw yg lebih dogmatis sperti Ibnu Saba..Muawiyah..dll ??

    • boleh dong Mr. dibagi referensi yg lain itu, biar makin kaya pemahamanku. thanks ya

      • Membuat aturan untuk anak, kira2 membuat anak keluar dari fitrahny g?

        • rasanya tidak. aturan tetaplah penting, maksud ayah bunda buat aturan tentu agar si buah hati disiplin dan seterusnya. nah, agar tak keluar dari ‘fitrah’ ayah bunda yang perlu disadari pertama, apakah aturan ini justru ‘mengekang’ atau membantu mereka semakin bertumbuh. ‘mengekang’ maksudnya aturan dibuat atas persepsi ayah bunda, aturan itu hanya ‘maunya’ ayah bunda. misalnya begini, kita mau buat aturan soal belajar. persepsi atau konsep belajar yang bunda dan ayah pikirkan (orang dewasa) adalah berbeda dengan dunia anak. apalagi setiap anak itu spesial, dia punya kelebihan masing-masing. belajar menurut kita orang tua, harus khusuyu, duduk yang rapi, dia tak ‘bercanda’, dan seterusnya, bagi anak berbeda-beda, ada yang memang begitu ada juga yang sangat berbeda. itulah kenapa mereka unik. kalau kita tak memahami ini, maka ketika anak tak sesuai dengan persepsi kita, kita akan menganggap mereka melanggar aturan yang kita buat, apdahal sesungguhnya tidak. sebab kita saja yang belum melihat aturan dari sisi mereka. mungkin bisa baca juga tulisan saya tentang Memarahi Anak.(http://julmansyahputra.com/2015/04/memarahi-anak-2/)
          nah, nanti berbeda lagi jika anak sudah dewasa, aturan yang diterapkan lebih pas jika didiskusikan dengan mereka, atau setidaknya komunikasikan untuk apa aturan ini dibuat. kita jelaskan tiap konsekuensinya. sehingga anak tidak terpaksa ikuti aturan itu. dan insyaAllah mereka akan bertembuh sebagaimana yang mereka inginkan (fitrah), bukan semata-mata yang ayah bunda mau. mudah2-mudahan menjawab. terimakasih untuk diskusinya. salam

Leave a Reply