Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Pesan Kehidupan Dari Kematian

Pesan Kehidupan Dari Kematian

Ini kali pertama Sulung secara utuh menyaksikan prosesi pengurusan jenazah, mulai dari memandikan sampai menghantarkan ke pemakaman. Sulung memang penakut, terutama dalam hal kematian, ia sering kali merinding jika membayangkan peritiwa yang pasti datang pada semua yang bernyawa itu. Tapi kali ini tidak, Sulung justru penasaran.

***

Sulung sedang sibuk bekerja, sampai tiba-tiba suara ponselnya berdering. ‘Pulang sekarang, langsung ke rumah kakek’, begitu isi pesan ayahnya singkat. Sulung sudah bisa menduga ada yang tak beres yang terjadi. Ia ingat kakeknya yang sempat sakit karena usianya yang memang sudah lanjut. Sulung tahu, ini pesan penting. Tanpa berpikir panjang, Sulung berkemas izin ke kantor untuk pulang kampung segera.

Benar saja, setelah seharian menempuh perjalanan, Sulung mendapati rumah kakeknya sudah ramai sekali sanak saudara yang berkumpul. Semuanya larut dalam kesedihan, bahkan ada yang terisak menangis duduk di samping sang kakek yang terbaring lemas. Bersyukur saat tiba, Sulung masih sempat bertemu kakeknya, meski tak ada lagi kata yang bisa didengar.

Tak lama berselang, sang kakek akhirnya dijemput malaikat untuk menghadap sang Pencipta mansuia. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, segalanya milik Allah dan kepada-Nya lah semua akan kembali. Kali ini semua orang yang berada di sana tak kuasa menahan tangis. Peristiwa kematian memang selalu meninggalkan duka, tapi toh semuanya pasti akan terjadi, semua hanya tinggal menunggu giliran, ‘sekarang kakeku’, kata Sulung dalam hati, dan entah siapa selanjutnya.

Sebetulnya, tak lama sebelum kematian sang kakek, Sulung juga kehilangan tantenya, adik dari ayahnya. Rasanya baru kemarin keluarga ini menghantarkan kepergian salah seorang yang dicintainya, kali ini harus kehilangan sang kakek pula. Jadilah kesedihan itu menumpuk-numpuk dan pecah menjadi tangisan yang tak henti.

***

Setelah hampir seluruh keuarga berkumpul, dan beberapa sanak saudara di perantauan sudah datang. Maka persiapan untuk menunaikan kewajiban terakhir pada alhmarhum segera dilakukan. Saat jenazah kakeknya ingin dimandikan, Sulung yang semula takut justru tak ingin ketinggalan. Setelah mengumpulkan keberanian, meski tak ikut langsung memandikan, Sulung yang penasaran akhirnya menyaksikan bagaimana jenazah kakeknya dibersihkan.

Ada yang aneh dan baru itu Sulung saksikan. Setelah jenazah sang kakek selesai dimandikan, beberapa anak kecil, mungkin masih duduk di bangku Sekolah Dasar, mengusap kepala juga membasuh wajah mereka dengan air bekas pemandian jenazah yang tersisa. Entahlah, Sulung tak tahu apa maksudnya. Pun ia malas mencari tahu. Sulung hanya menerka-nerka, ‘mungkin mereka sendang mencari berkah’, pikir Sulung sambil melwatkan peristiwa itu begitu saja.

Ternyata, tak cukup melihat keanehan pertama, Sulung menemukan hal aneh lainnya. Aneh baginya karena ia tak pernah menemukan itu sebelumnya. Saat jenazah almarhum kakeknya di shalatkan di masjid. Selagi para jamaah membaca tahlil dan doa, seseorang menghitari para jamaah dan menyelipkan amplop ke saku mereka yang turut menshalatkan almarhum.

Sulung menolak saat pria yang berkeliling itu memasukkan amplop ke sakunya, Sulung sedikit jengkel, meski itu tak diperlihatkannya. Ia marah dalam hati, ‘ini kakekku sendiri, mengapa pula aku harus menerima sesuatu untuk kebaikan yang aku lakukan pada kakekku’, Sulung jadi tak khusyu’ berdoa sebab merasa terusik dengan kejadian itu.

Sulung memang pernah mendengar tradisi serupa itu. Semula ia tak percaya, tapi kali ini ia menyaksikannya justru terjadi pada peristiewa kematian kakeknya sendiri. Entah darimana tradisi memberi ‘bayaran’, meski tentu tak ingin mereka menyebutnya sebagai upah menshalatkan. Biasanya keluarga yang ditinggalkan meniatkan pemberian itu sebagai infak shodaqoh terakhir si mayit.

Kali ini Sulung tak ingin melewatkan begitu saja kejadian yang disaksikannya. Timbul pertanyaan darinya, bagaimana seandainya yang meninggal berasal dari keluarga yang tak mampu? Mungkinkah keluarga yang ditinggalkan ‘berani’ menshalatkan anggota keluarganya yang meninggal di masjid?

Pertanyaan Sulung bukan tak berdasar. Ia pernah mendengar cerita bahwa ada salah satu keluarga yang enggan membawa jenzah keluarganya untuk dishalatkan di masjid hanya karena ketiadaan uang untuk infak si mayit. ‘jangan dibawa ke masjid, dishalatkan di rumah saja, kami tak mampu memeberi amplop jamaah yang turut hadir menshalatkan’, kenang Sulung pada cerita yang pernah didengarnya.

Dan Sulung yakin, keluarga yang tak menshalatkan keluarganya yang meninggal di masjid itu bukan satu-satunya, mungkin masih ada banyak keluarga lainnya yang menjadi ‘korban’ tradisi yang mungkin tak berdasar itu. ‘Kasian orang miskin, meninggal saja masih direpotkan dengan tradisi, yang jika tidak dilaksanakan akan menjadi buah bibir orang sekampung’.

Selamat jalan kakek, selamat beristirahat. Satu-satu pasti kami akan menyusul. Dan semoga surga Allah menjadi tempat peristirahatanmu. Amin. Hari itu Sulung mendapat pelajaran kehidupan dari sebuah kematian. Bahwa proses berpulangnya seorang hamba, seharusnya memantapkan diri dan menumbukan empati bagi mereka yang ditinggalkan.

 

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org dan http://jujulmaman.blogspot.com

Leave a Reply