Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Saya Adalah Spesial

Saya Adalah Spesial

Sulung percaya, setiap manusia yang diperkenankan Allah lahir ke dunia adalah spesial. Adalah keharusan untuk bersyukur atas kesempatan tersebut. ‘Dan saya adalah spesial’, kata Sulung membusungkan dada seraya menepuk-nepuknya. ‘Uhuk, uhuk, uhuk’, Sulung terbatuk, mungkin terlalu bersemangat sampai lupa ia menepuk dadanya terlalu keras.

Bagi Sulung, itu bukan ekspresi sombong, tapi begitulah caranya memotivasi diri sendiri. Sulung percaya dia memiliki sesuatu dalam dirinya yang bisa diolah untuk meraih mimpinya. Dan dengan itu menjadikan kehadirannya memberi manfaat bagi sesama. Sulung tak mau, ia terlahir hanya untuk numpang tidur dan makan. Sulung percaya, manusia adalah khalifah Allah di muka bumi. Dan sebagai khalifah tentu manusia itu ciptaan ‘sempurna’.

Sulung memang ekspresif, bahkan kadang gaya memotivasi diri khasnya itu ia lakukan di depan cermin. Tentu saja dengan beragam gaya yang menurut temannya ‘ngeselin’. Tapi tidak dalam keyakinan Sulung, justeru gaya-gaya ‘nyeleneh’ itulah yang membuat dirinya ‘ngangenin’. Ah, itu bisa-bisa Sulung saja menghibur diri.

Sulung sangat bersyukur bahwa ia terlahir dalam keluarga yang agamis dan terpelajar. Kedua orangtua-nya adalah guru. Ayahnya seorang pengajar agama yang juga aktif di masyarakat terutama dalam hal mengajarkan agama. Ibunya seorang guru di Sekolah Dasar yang tak jauh jaraknya dari rumah. Seperti ayahnya, ibu Sulung juga aktif dalam kegiatan masyarakat, terutama di bidang pemberdayaan dan pendidikan.

Sulung masih ingat, sewaktu kecil ia sering ikut ibunya mengajar paket A dan B di sebuah perkampungan yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Sulung belajar dari ibunya bagaimana menikmati apa yang dikerjakan. Enjoy dengan pilihan hidup itulah yang menurut Sulung membuat ibunya tampak tak lelah penuh sabar berbagi ilmu pada orang lain.

‘Saya yakin saya adalah spesial’, Sulung kembali menyemangati dirinya. Kali ini tanpa menepuk dadanya. Tapi kali ini gayanya diganti dengan mengedip-ngedipkan matanya di depan cermin. Dan masih dengan sebaris senyumnya yang ‘ngeselin’.

Sulung mengingat-ingat kisah ‘suksesnya’ sewaktu duduk di Sekolah Dasar. Sejak kelas satu di sekolah dasar, hingga kelas tiga, rengkingnya selalu masuk tiga besar di kelas. Entahlah, apakah Sulung memang siswa berprestasi atau karena ibunya adalah salah seorang pengajar di sekolah itu yang membuatnya selalu juara. Tapi rasa-rasanya bukan, meski tak terlalu pintar, Sulung juga tak bisa disebut bodoh.

Naik ke kelas empat, Sulung memutuskan untuk pindah sekolah, dari Sekolah Dasar Negeri ke Madrasah Ibtidaiyah. Cukup unik yang menjadi alasan Sulung untuk pindah sekolah dari umum ke agama. Ia ingin masuk Surga. Ia bertekat untuk menguasai bahasa Arab. ‘Saya ingin masuk surga’, ujar Sulung mengenang alasannya waktu itu.

Sulung percaya nanti di akhirat malaikat akan bertanya kepadanya, ‘man Rabbuka’, pertanyaan itu dengan bahasa Arab. Sulung, tersipu malu mengingat kelakuannya kecil dulu. ‘Maklumlah, namanya juga pikiran anak-anak.’, dia berusaha membela diri. Sulung bangga, sebab sedari kecil ia sudah bercita-cita untuk masuk surganya Allah. Cita-cita yang jarang disebut oleh anak seusianya.

Keputusan Sulung pindah sekolah, bolehlah dibilang tepat. Sulung bertemu dengan dunia baru dan berbeda. Teman-temannya semakin beragam, mulai dari suku sampai tingkat pengetahuannya. Alhasil, di sekolah baru ini Sulung memperoleh rengking yang ‘lebih tinggi’, bahkan sampai puluhan. Sulung ingat, ia pernah merasakan rengking, kesekian belas bahkan kesekian puluh.

Meski awalnya kaget, namun itu Sulung nikmati. Dari situ pulalah Sulung menyadari satu hal bahwa selama ini pencapaian prestasinya sudah luar biasa, ia biasa menyabet rengking satu atau dua di sekolah sebelumnya, ternyata tidak berlalu di tempat belajar barunya. Sulung belajar bahwa masih banyak orang yang lebih dan lebih di luar sana ketimbang dirinya. Mungkin istilah katak dalam tempurung, waktu itu cocok untuk menggambarkan bagaimana dirinya.

Sulung tak menyerah, ia terus belajar dan Alhamdulillah, meski tak sampai tembus ketiga besar, pencapaian prestasi tertingginya berada di empat besar. Bagi Sulung itu luar biasa, sebab dia adalah siswa lelaki satu-satunya yang berhasil pada posisi itu, rengking satu sampai tiga direbut pelajar putri yang semuanya luar biasa.

Cukup lama Sulung melamun di depan cermin, memutar ulang peristiwa demi peristiwa masa kecil yang menurutnya membuktikan bahwa dirinya adalah spesial. Sekali lagi Sulung berteriak perlahan, ‘Saya yakin saya adalah spesial’. Ia ucapkan itu berulang-ulang sambil mengangkat tangannya yang terkepal, persis tampak seperti peserta demonstrasi yang sedang orasi. Kali ini tanpa senyum. Ekspresi wajahnya serius. Tapi tetap saja ‘nyebelin’.

Ketika masih di SD (sebelum pindah ke MI), Sulung aktif sebagai Praja Muda Karana (Pramuka). Sulung adalah kader Siaga yang paling aktif. Karirnya cemerlang. Dia selalu dipercaya untuk menjadi pemimpin upacara. Sulung memejamkan mata, membayangkan betapa luar biasa gagahnya ia ketika berdiri tegap di depan seluruh pasukan menjadi komandan yang menyiapkan barisan dan menjamin keberlangsungan upacara berjalan rapi juga khidmat hingga selesai. Sulung benar-benar merasa spesial.

Meski masih level Siaga, Sulung cukup piawai dalam masalah tali-temali. Ayahnya yang juga seorang pramuka sejati yang mengajarinya. Keahliannya itulah yang membuat dirinya sering dipanggil kakak-kakak pramuka Penggalang untuk ikut berkemah atau kegiatan lainnya. Sulung bahagia bisa berbagi, ia merasa bahwa adanya menghadirkan manfaat buat orang lain.

Sulung sadar, dia memang bukan yang terhebat dalam hal pelajaran (bidang akademik). Namun, satu hal yang ia sadari betul adalah bahwa dirinya cukup hebat dalam urusan menajdi sosok pribadi yang menyenangkan. Sulung rasanya cukup mengerti membuat orang selalu nyaman ketika berada di dekatnya.

Sejak kuliah, Sulung banyak menjadi teman curhat bagi sahabat-sahabat saya. Ia adalah tempat mengadu. Pernah satu kali ada seorang sahabat perempuan yang datang padanya sambil menangis. Sulung panik, ia takut dituduh telah melakukan hal buruk pada sahabatnya itu. Jelas saja Sulung khawatir, itu terjadi di tempat umum, ada banyak orang yang melihat. Ah, ada-ada saja pikir Sulung.

Mendengarkan curhatan orang lain dilakukan Sulung dengan senang hati. Senang karena ia dipercaya untuk menyimpan rahasia orang yang bercerita padanya. Senang karena dianggap sebagai suber solusi atau paling tidak bisa menenagkan sahabatnya. Senang karena banyak pelajaran hidup yang bisa petik dari cerita-cerita mereka. Dan yang paling penting adalah senang karena Sulung pun senang menjalani peran itu.

Saat aktif di organisasi, Sulung yang menyadari bakatnya, bahwa ia adalah pribadi yang menyenangkan, dibuktikannya kembali dengan kesanggupannya memberi warna dimanapun ia berada. Maka tak heran, ketika Sulung tidak ada, sosoknya sering dicari oleh sahabat-sahabatnya. Seolah tak lengkap tanpa kehadirannya.

Sebagai orang yang aktif di organisasi, Sulung tentu dituntut untuk cakap bicara tampil di depan umum. Sulung tak pernah menyia-nyiakan momentum, saat ia diminta untuk jadi pembicara atau trainer, Sulung tak mau melewatkannya. Baginya itu kesempatan emas yang merugilah dirinya jika dilewatkan. Maka beberapa kali Sulung tercatat sebagai trainer di beberapa kegiatan kesiswaan dan kemahasiswaan, training motivasi, orientasi mahasiswa, training kepemimpinan dan organisasi, dan Latahin Kepemimpinan Santri di salah satu Pondok Pesantren.

Selain menikmati latihan tampil di hadapan publik, Sulung juga mengasah dirinya dalam hal menulis. Mulanya, seorang senior memaksanya untuk menulis. Setiap satu minggu ia harus ‘nyetor’ dua tulisan untuk dikoreksi oleh seniornya. Dari sanalah kemampuan menulisnya mulai terasah. Ia ingat kata-kata seniornya dulu, ‘menulis adalah pembuktian intelektual seseorang’. ‘Lu jangan ngaku intelektual kalau lu nggak ada tulisan, tulisan lu itulah buktinya’, begitu senior Sulung memotivasi dirinya.

Belakangan Sulung bertambah motivasinya untuk menulis oleh karena nasehat gurunya, ‘Bila ingin kenal dunia, bacalah. Tapi bila ingin dunia mengenalmu, menulislah.’ Kalimat ini yang semakin memantik semangat Sulung untuk menulis, setidaknya di blog pribadi miliknya. Cita-citanya, suatu hari nanti dia akan menulis sebuah buka. Bukan sekedar menerbitkan, tapi bukunya harus menjadi best seller.

Semua anugrah berupa kecintaan pada dunia training dan menulis merupakan nikmat Allah yang luar biasa. Dan karenanya Sulung merasa begitu bahagia dan spesial. Sekali lagi dengan penuh semangat dan mantap, Sulung mengatakan pada dirinya bahwa ‘Saya adalah spesial. Terimakasih ya Allah.’ 

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org dan http://jujulmaman.blogspot.com

Leave a Reply