Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Galau, Kenapa Nggak?

Galau, Kenapa Nggak?

Seorang sahabat baik saya pernah berkelakar, ‘masa motivator galau?’, kurang lebih begitu katanya. Dan jleeeeeb. Itu membuat kadar galau saya semakin bertambah. Semula saya begitu serius menanggapi candaan itu. Saya merasa ‘berdosa’, memotivasi agar orang lain tak galau sementara sendirinya sering dihampiri rasa tak menentu itu. Namun, setelah dipikir-pikir, apa ada orang yang tak pernah galau selama hidupnya?

Galau memang tak pandang bulu. Virusnya bisa menjangkiti siapa saja, tua, muda, pekerja, pengangguran, atasan, bawahan, dan bahkan kapan saja tak peduli ruang juga waktu. Sesungguhnya mahluk seperti apa galau itu?

Secara umum, banyak yang mengaritkan galau semacam perasaan yang tak nyaman, gundah, gelisah, sedih, menyesal, bingung, dan sebagainya. Semua rasa itu biasanya merupakan akibat dari keadaan silit, kesusahan, permasalahan yang sedang dialami seseorang.

Mengingat hampir mustahil manusia tak berjumpa dengan masalah, lantas apakah bisa disimpulkan hampir mustahil pula bahwa tak mungkin manusia bebas dari kegalauan? Dalam perenungan itu saya menemukan Firman Allah dalam surat al-Ma´aarij [70: 19], yang menyebutkan bahwa, ‘Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir’.

Teringat dengan candaan sahabat baik yang saya ceritakan di atas, ‘teguran’ yang ia sampaikan memang ada benarnya. Harusnya sang pemberi nasehat tak boleh galau. Tapi, bagaimana jika saya terlanjur mengalaminya (galau), haruskah saya berhenti memotivasi? Haruskah saya menyalahkan diri sendiri dan merasa berdosa? Pasti tak semestinya begitu, ingat bahwa kita tercipta sebagai mahluk yang suka berkeluh kesah.

Lantas bukan ini menjadi pembenaran untuk terlarut dalam kegalauan yang tak berkesudahan. Galau boleh dan mungkin kita perlu nikmatinya sesekali waktu. Tapi bukankah kita harus berubah. Galau boleh, yang terlarang adalah berputus asa untuk move ON. Allah ingatkan kita dalam surat Yusuf [12: 87], ‘…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.’

Akhirnya, penting untuk selalu berdoa, terutama saat membaca surat al-Fatihah [1: 7], yang kita baca berulang-lang dalam shalat, agar terhindar dari ‘jalan yang sesat’. Saya lebih senang menyampaikan doa ‘anti galau’ itu dalam kalimat sebagai berikut: ‘Ya Allah, tunujukkanlah aku jalan yang lurus. (Yaitu) jalan mereka yang telah Engkau karuniakan nikmat. Bukan jalan mereka yang Engkau murkai. Bukan pula jalan mereka-mereka yang sesat, galau, dan disorientasi. Ya Allah, perkenankanlah doa ku.’ Wallahu ‘Alam Bissawab.

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
atau di facebook Julmansyah Putra 



Leave a Reply