Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Lihatlah Ke Bawah

Lihatlah Ke Bawah

Buru-buru Sulung menghentikan laju sepeda motornya di sebuah halte. Hujan sore itu cukup deras dengan tiupan angin yang juga kencang. Sulung tau cuaca seperti itu tak aman berkendara, jarak pandangnya tentu akan terganggu. Apalagi Sulung lupa membawa jas hujan yang kemarin tak sempat dirapihkannya.

Sambil berdesak-desakan di halte menunggu hujan reda, Sulung melamunkan banyak hal. Dia  membiarkan lamunnya terbang entah kemana, Sulung tak berusaha mencegah atau membatasinya. Sesekali Sulung mengangguk-anggukan kepalanya, seolah ia sedang menyadari sesuatu. Atau mungkin dia menemukan ide baru untuk merubah nasibnya.

Tiba-tiba Sulung teringat anak dan istrinya di rumah. Lalu sebentar ia merogoh handphone yang ada di saku jaketnya. ‘Halo mom’, Sulung menelpon istrinya, ‘di rumah hujan tidak mom’, tanya Sulung pada istrinya. ‘Di sini hujan deras, daddy harus berhenti, tadi lupa bawa jas hujan, lanjut Sulung. ‘Ayuk bagaimana mom’, Sulung bertanya tentang putri kecilnya. ‘Daddy kangen, pengen gendong, peluk, cium Ayuk’.

Entah apa jawaban istrinya di sebrang ujung telpon sana, Sulung tak terlalu hiraukan, riuh suara-suara orang yang juga berteduh di halte, bercampur suara hujan dan sesekali petir yang menyambar mengaburkan suara istrinya di ujung telpon. Bagi Sulung, cukuplah istrinya tau bahwa ia sedang berteduh seraya merindukan mereka yang ada di rumah.

Hujan belum mau mereda ketika Sulung mengakhiri telponya. Sulung pun kembali menyibukkan dirinya dengan perenungannya. Dia coba mengingat-ingat tentang dirinya, pekerjaannya, rencana hidupnya yang tertunda, yang gagal, atau bahkan mimpi-mimpinya yang seolah musykil. Sulung urai satu-persatu, menikmati setiap potret masalalu dan rencana masa depannya.

Cukup lama Sulung larut dalam lamunnya, tiba-tiba ia menarik nafas panjang dan menghempaskannya seolah ingin melempar beban yang berkecamuk di pikirannya, ‘huuuft, berat sekali hidup ini, sampai kapan begini, Sulung setengah bergumam. sulung sering merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaannya, namun Sulung tak ada pilihan, jika tak bekerja, bagaimana menafkahi keluarga, bagaimana membayar kontrakan untuk tahun berikuntnya, bagaimana ini, bagaimana itu, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana.

Sulung, terus menggerutu, memaki-maki nasibnya. Ia merasa orang yang paling menderita sedunia, paling gagal, paling tak berdaya. Dalam kegalauan yang luar biasa, Sulung mulai membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain. Si anu enak, si anu beruntung, si anu bahagia, terus dan terus saja dia membandingkan hidupnya. Dan semakin Sulung lakukan itu, semakin menyesakkan dada, semakin menambah kegalauannya.

Sulung mulai kesal dan seamkin kesal. Seolah mimpinya, keinginannya, harapan masa depannya tak mungkin dan mustahil nyata. Sulung semakin memaki hidup dan nasibnya. Kalau saja itu bukan di halte yang ramai orangnya, mungkin dia sudah teriak keras-keras untuk menumpahkan kemarahannya.

***

Dalam kemarahan yang tertahan itu, tiba-tiba, ada satu pemandangan yang menghentak kesadarannya. Sulung seketika diam, berhenti memaki hidupnya yang baginya paling menderita. Seorang bapak tua, mungkin usianya sudah 60 an, mendorong gerobak es, melintas melaju melawan derasnya hujan. ‘Oh, bapak tua itu lebih menderita dari aku, kata Sulung dalam hati. Entah sudah laku berapa es nya, mungkin tak banyak, atau malah tak laku sebab hujan deras sekali mengguyur. Aku yang setiap harinya duduk di ruang ber-AC, kerjaku lebih banyak di depan komputer, hanya sesekali saja aku keluar kantor untuk menemui beberapa orang. Berani-beraninya aku mengeluh, berani-beraninya aku merasa pekerjaanku paling payah.

Sulung diam. Ia tak berani meneruskan keluh kesah, ia berhenti mencaci maki hidupnya sendiri. Sulung diam dan  tersadar. ‘Ampuni aku ya Allah, rasa ini, mata ini, hati ini, telinga ini, hanya memperhatikan mereka yang lebih di atasku, aku lupa bahwa yang hidup jauh lebih menderita juga tak sedikit jumlahnya, aku lupa melihat ke bawah’, Sulung mengakhiri sepenggal doa dan penyesalan sore itu di sebuah halte ketika berteduh menunggu hujan mereda.

Jika beberapa saat lalu Sulung menahan teriakan kemarahannya, kini dia tertunduk malu menahan tangis penyesalannya.

Renungan sore menunggu reda hujan di sebuah halte, 2012

 

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
atau di facebook Julmansyah Putra
 
 
Lihatlah Ke Bawah

Leave a Reply