Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Ads

Mencari Titik Temu, Mencipta Harmoni

Judul Buku: Teologi Kerukunan. 
Penulis: Prof. Dr. Syahrin Harahap, M.A. 
Penerbit: Prenada, cetakan Pertama, Januari 2011. 
Tebal: xviii + 235 Halaman 
 
Hidup rukun dalam masyarakat majemuk merupakan keharusan untuk mencapai damai. Sikap menghargai dengan tulus perbedaan itu merupakan bagian penting dari ajaran agama, tidak hanya Islam, tapi semua agama. Sikap itu sekaligus menjadi bukti ketaan seorang hamba pada Tuhannya. Begitulah, kesadaran bahwa toleransi merupakan bagian dari ketaatan akan melahirkan penghargaan atas keragaman, yaitu pengakuan secara tulus tanpa dusta bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang niscaya.
 
Ketulusan dalam memahami dan menyikapi kehidupan bangsa yang multikultural merupakan perkara penting bagi kelangsungan harmoni sosial. Kenyataan sejarah membawa kita pada sebuah kesimpulan bahwa kecurangan dalam menyikapi kemajemukan menjadi faktor penghambat terciptanya harmoni. Adalah masyarakat Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. mengalami keterpecahan disebabkan satu kelompok berbuat curang terhadap kata sepakat yang tertuang dalam Piagam Madinah. (hlm. 7)
Perbincangan mengenai harmoni antar-iman tampaknya hampir menjadi bahasan wajib bagi tiap-tiap pribadi yang memimpikan perdamaian. Syahrin Harahap, Guru Besar IAIN Sumatra Utara, adalah salah satunya. Lewat bukunya, Teologi Kerukunan, ia tak hanya menyuguhkan solusi untuk mencipta kerukunan, tetapi juga memberikan sajian historis tentang bagaimana sikap toleransi diteladani oleh Rasulullah saw. Buku yang diberi pengantar oleh Pastor Yohanes Barualamsjah ini tak tertinggal menyertakan identifikasi muasal persoalan yang kerap mengoyak harmoni. 
 
KONFLIK 
 
Adalah peristiwa terkini, penyerangan Jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, yang sekali lagi merenggut nyawa anak manusia. Pun masih segar dalam ingatan kita, kasus penusukan seorang Pendeta HKBP Ciketing, Bekasi pada 2010 atau kerusuhan yang terjadi di Temanggung, Jawa Tengah. Juga insiden penyerangan terhadap sejumlah santri di Pondok Pesantren Al’ Ma’hadul yang beraliran syiah di Kecamatan Beji, Pasuruan, Jawa Timur. Celakanya, hampir setiap konflik kekerasan yang terjadi, perbedaan iman (agama) selalu dilekatkan sebagai musababnya, meski itu tak sepenuhnya benar. 
Minimnya tenggang rasa antar-kelompok hingga mewujud dalam konflik mencederai nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat dalam ajaran semua iman, sekaligus menjadi bukti rapuhnya ketulusan hati dalam menyikapi perbedaan. Kegagalan menginsafi kemajemukan tak pelak meluluhlantahkan bangunan kebersamaan. Intimidasi, penghakiman sesat, pengerusakan rumah tinggal dan tempat ibadah, sampai pengusiran sekelompok orang atas lainnya, dan mungkin pula aksi kekerasan berupa terorisme merupakan buah nyata dari kegagalan merajut keragaman dalam bingkai harmoni. 
Bila sudah terlanjur terjadi, kekerasan yang menyertakan agama di dalamnya, bersama-sama kita mengutuk perbuatan tersebut, tanpa pernah belajar dari persoalan serupa yang juga sudah pernah terjadi sebelumnya. Semua pihak panik dan menyebut peristiwa itu disulut oleh provokator atau belakangan dikenal pula istilah aktor intelektual yang memainkan peran dalam kerusuhan yang terjadi. Celakanya, kepanikan ini justru makin memperbesar prasangka antar-kelompok. Alih-alih menyelesaikan masalah, itu justru melahirkan kebencian dan mungkin dendam yang boleh jadi akan meledak dalam tindakan kekerasan berikutnya. 
Sejatinya, apa yang kerap kali disebut sebagai provokator itu hanya menyulut sedikit saja api kebencian yang tumbuh dalam diri manusia yang penghayatan serta pengamalan agamanya tidak penuh dan utuh. Ia bukan penganut agama yang sejati, sebab, agama dalam kesejatiannya tidak pernah mengajarkan kebencian apalagi menyimpan dendam. Dengan demikian, penghayatan dan pengamalan agama yang benar merupakan daya tangkal paling ampuh terhadap provokasi konflik antar-agama dan antar-etnis, demikian tulis Syahrin. (hlm. 6) 
 
TITIK TEMU 
 
Adalah tugas umat dari setiap agama, selain keinsyafan bahwa kemajemukan merupakan fakta yang tak mungkin ditolak, juga hendaknya berupaya menemukan titik temu lalu mengelolanya menjadi sinergi guna mencipta damai. Sebab, keragaman yang meniscayakan perbedaan didalamnya, sekaligus memuliki persamaan-persamaan yang darinya memungkinkan seluruh umat manusia yang berbeda bisa hidup berdampingan dengan harmonis. 
Kenyataan kita sebagai manusia yang menghuni planet yang sama merupakan salah satu titik temu yang bernilai universal. Tak satu pun ajaran agama menolak nilai-nilai kemanusiaan. Maka, dalam konteks ini perlu kesadaran bahwa panggilan untuk mempertemukan nilai-nilai yang sama harus dikiuti dengan sikap terbuka dan mendalam untuk tidak hanya memahami nilai yang terkandung dlam agama sendiri, tapi juga belajar dari sudut pandang agama lain dalam menyikapi nila-nilai universal tersebut. 
Islam misalnya, ajaran tentang penghargaan terhadap hidup seorang manusia diabadikan dalam al-Quran yang melarang pembunuhan tanpa hak (QS. 4: 92) dan menghukum sebagai pembunuhan masal bagi pembunuh meski yang terbunuh hanya satu nyawa (QS. 5: 32). Ayat ini juga memberi imbalan yang serupa bagi mereka yang menjaga hidup dengan menyebutkan bahwa siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (hlm. 107) 
Memelihara hidup anak manusia harus ditempatkan sebagai persoalan yang wajib diemban oleh seluruh penganut agama. Kekerasan dan tragedi kemanusiaan yang semakin menggejala dewasa ini, dengan menyertakan agama sebagai pembenarannya tak pelak lagi telah mencederai nilai luhur dan mencoreng wajah agama yang sejatinya ramah dan penuh kedamaian. Orang yang mengaku beragama sudah seharusnya mampu memberikan keselamatan serta kedamaian bagi orang hidup lain, bukan menjadi ancaman bagi sesamanya. 
Dengan demikian, tak ada alas an untuk tidak melakukan dialog antar-iman. Ini penting jika agama-agama tidak ingin kehilangan peran sentralnya yaitu sebagai penjaga dan benteng dalam mewujudkan keselmatan, baik hari ini di dunia maupun kelak di hari di mana semua laku akan mendapat perhitungannya. Perdamaian dan keselamatan seluruh umat manusia sudah tak mungkin dan memang demikian adanya, untuk dikerjakan oleh orang-seorang atau kelompok tertentu. 
Titik temu kita terletak antara lain pada kewajiban untuk mewujudkan harmonitas, tulis syahrin dalam bagian penutup bukunya. Semua agama mengajarkan setiap pemeluknya tidak saja diminta pertanggungjawaban atas aktivitas dan hubungannya dengan teman seagama, tetapi juga diminta tanggung jawab, apakah ia telah melaksanakan hubungan baik, jujur dan menjunjung tinggi etika antar-umat beragama. Inilah hakikat dari teologi kerukunan, tutur Syahrin. (hlm. 174) 
Akhirnya, Mencipta keseimbangan semesta merupakan tugas bersama, tugas tiap-tiap agama. Hal ini pula yang menjadikan dialog antar-iman itu menjadi perkara penting dan harus terus dilakukan. Dialog hendaknya berlangsung atas dasar ketulusan nurani serta mengutamakan sikap dan pikiran positif pada kelompok lain. Tidak melakukan penghakiman dengan mengatakan kalian salah dan kami benar, sejatinya setiap manusia memiliki kemungkinan benar dan salah, sebab kebenaran hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, Pengusa sekalian alam. Wallahua’lam bissawab

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org

Ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: