Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Ads

Pembangunan Untuk Kaum Papa

Judul Buku : Neo-Marxisme Antropologis
Pengarang : John Clammer
Penerbit : Yogyakarta: Sadasiva, 2003
Halaman : xiv + 252 hlm. ; 14 cm x 20 cm

Mungkinkah sebuah konsep mampu mewakili hajat sekalian umat manusia dan dapatkah ia tetap relevan untuk diterapkan di setiap masa? Kiranya ini lah pertanyaan yang menggelitik hati penulis buku ini untuk menelanjangi konsep besar; Marxisme yang pernah mewarnai dunia.

Lahirnya sebuah isme tak lepas dari kondisi sosio-kultural di sekelilignya dan tentunya kemunculan tersebut bukan sekedar ungkapan rasa ketidakpuasan yang di arahkan kepada isme lain secara membabi buta, namun tentunya ia akan menawarkan sebuah konsep yang menjanjikan penerapan keadilan bagi pengikutnya.

Manusia adalah produk dari kebudayaan begitulah kira-kira ungkapan yang sering dilontarkan dalam pelbagai kajian tentang sosiologi. Oleh karena terdapat ragam budaya di jagat raya ini yang meniscayakan keragaman pola perilaku antara masyarakat satu dengan lainnya sesuai budaya mana yang mencetaknya.

Maka untuk memahami bagaimana sifat sebuah masyarakat langkah penting yang harus ditempuh adalah dengan mengkaji segala hal yang berkenaan dengan kebudayaan. Dengan demikian, menjadikan Antropologi sebagai pisau analisis untuk mengenal manusia dan perilaku sosialnya merupakan langkah yang sudah tepat.

Bila penafsir Marxisme meyakini bahawa faktor utama penentu segala sesuatu adalah ekonomi yang terbatas hanya pada sistem produksi yang akhirnya menghantarkan manusia pada keterasingan atau istilah popoulerrnya adalah alienasi. Sayangnya marxsisme terus dipandang sebagai dogma sehinga tabu untuk diotak-atik lagi. Padahal dengan interpretsi-interpretasi baru yang sesuai dengan sosio-kultural saat ini marxisme akan tetap terasa hangat dan tentunya dapat juga turut membantu kepelikan masalah yang sedang menimpa masyarakat dunia saat ini.

Studi antropologi tentang pembangunan menjadi pembahasan cukup menarik bila dikaitkan dengan konsep marxisme tentang ekonomi, sebab dalam kajian yang berkenaan dengan pembangunan, ekonomi menjadi faktor kunci untuk membuka pintu menuju konsep pembangunan berpihak pada kemanusiaan. Di sinilah antropologi memainkan perannya, aspek kajiannya yang berkenaan dengan faktor sosal, politik, ekonomi, budaya tentu tak dapat dihindarkan untuk melebur menjadi satu yang mau tidak mau menghajatkan perhatian serius dari kalangan Antropolog.

Tesis yang memustahilkan keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya bila pembangunan di bidang politik dan yuridis tidak dinomorsatukan ternyata membawa implikasi-implikasi sosial yang cukup serius dan memprihatinkan, lebih dari itu bahkan akan membahayakan bagi kelangsungan hidup masyarakat tertentu.

Hal yang paling mungkin adalah timbulnya jurang pemisah yang semakin tajam antara si kaya dan si miskin dan tentunya akibat-akibat sampingannya juga menjadi sangat mengkhawatirkan, dan hal tersebut hanya memperkuat status quo, memakmurkan yang kaya dan menindas kaum miskin.

Sudah menjadi keniscayaan bagi setiap disiplin ilmu untuk bersifat kritis, dan tentunya berlaku pula pada ilmu Antropologi. Sebagai sebuah pengetahuan ia (ilmu Antropologi) sudah barang tentu harus memiliki syarat itu. Ia harus kritis serta refleksif terhadap dirinya sendiri (disiplin yang terkandung di dalamnya) yang tentunya mengarah pada demensi di luar dirinya berkenaan dengan nilai-nila dan kehidupan serta perubahan struktur sosio-kultural yang terjadi di masyarakat.

Sikap kritis dan refleksif ilmu Antropologi akan membantu penerapan metode pembangunan di berbagai belahan dunia. Sebagaimana telah diketahui bahwa setiap wilayah memiliki corak budaya berbeda termasuk perilaku poltik, sosial, dan ekonomi yang berwarna-warni pula.

Penyamarataan sistem pelaksanaan pembangunan pada negara pertama dengan negara-negara ketiga sama halnya memaksakan sesuatu yang belum layak dilakukan, maka hasil yang terbayangkan adalah pembangunan prematur dan tentunya mengarah pada kekacauan bukan perbaikan yang mestinya menjadi tujuan dari sebuah pembangunan.

Sebagaimana yang diuraikan oleh Streeten dengan kalimat yang begitu sederhana namun dapat tertangkap oleh nalar logika kita yaitu “kebenaran tidak dapat di nasionalisasikan”. Lebih lanjut Streeten mengilustrasikan dengan sebuah contoh “ mungkin saja ada ilmu ekonomi Afrika, yang berbeda dari ekonomi Eropa; mungkin tidak ada kebenaran Eropa.” (hal. 19)

Manusia, itulah yang menjadi pokok penting kajian Antropologi. Untuk itu, secara historis hal ini telah digunakan oleh wakil-wakil kebudayaan Euro-Amerika untuk mengkaji Asia, Afrika, Amerika pribumi. Fenomena ini menggambarkan bahwa terdapat dua pihak yang berada pada level berbeda, John Clammer menyebutnya “subjek” dan “objek”.

Subjek dinisbatkan pada negara-negara maju yang terbilang tingkat hidupnya sejahtera dan objek dimaksudkan pada negara-negara ketiga yang faktanya merupakan negara yang sedang berproses munuju kemajuan ke arah lebih baik dan tentunya masih memerlukan banyak bantuan agar menjadi negara maju.

Tuntunan bagi negara ketiga akan berubah menjadi eksploitasi intelektual lewat jubah baru kolonialisme. Disadari atau tidak inilah fenomena yang telah banyak terjadi pada dunia ketiga seiring dengan pesatnya gelombang perkembangan di dunia Barat. Situasi yang menguntungkan di sebelah pihak dan merugikan pihak lain.

Awan hitam yang senantiasa menyelubungi terbitnya fajar pencerahan di negara-negara ketiga tak sulit untuk di buyarkan bila Antropologi Marxis meniupkan gairah baru yang membebaskan dan lebih menghayati perkembangan dunia yang terus-menerus berjalan tanpa henti. Dengan demikian keadilan universal tidak menjadi sesuatu yang utopis.

Kemutlakan perkembangan dunia inilah menjadikan kajian antropologi tetap terasa akrab di telinga dan senantiasa hangat untuk diperbincangkan. Maka uraian singkat dalam buku ini tentunya tak mampu mewakili seluk-beluk kajian antropologi secara luas dan begitu komplek itu, namun dengan kepadatan makna dari setiap ungkapan yang penulis sajikan memberikan sedikit titik terang bagi para pembaca dalam memahami antropologi dengan segala aspek yang menyertainya.

Namun seandainya teks ini disuguhkan bagi mereka yang belum begitu akrab dengan istilah-istilah dalam teori marxisme, penting kiranya untuk menyentuh beberapa kata kunci berkenaan dengannya sebelum lebih dalam menyelami kalimat demi kalimat yang berguna sebagai penuntun ketika mengeluti isi buku karangan John Clammer ini.

Julman, demikian ia biasa disapa. Lahir di Baradatu, Lampung Utara (kini Waykanan) pada 12 Juli 1981. Menyelesaikan studi S1 di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Saat ini tercatat sebagai Direktur Training The Power of Seven (TPO 7) pada Yayasan Da’i Fi’ah Qalilah (DFQ) Jakarta.

Ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: