Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Ads

Salam Semut

Salam Semut

Sering saya mendengar nasehat, ‘belajarlah dari semut, mereka saling bertegur sapa mesra setiap kali berjumpa’. Sesama semut, berhenti sejenak, saling mendekatkan kepala, seolah sedang cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri) jika bertemu sahabatnya. Itu adalah ‘ritual’ unik yang sering terjadi saat mahluk kecil ini sedang berpapasan. Indah bukan, jika pada sesama saling peduli dan bertegur sapa. Kita manusia, mungkin patut belajar dari apa yang dilakukan para semut.

Tapi, taukah Anda apa sedang mereka bicarakan (komunikasikan) saat semut berjumpa? Penasaran? Mau tau? Saya akan coba ceritakan dan tafsirkan apa isi komunikasi antar-semut itu. Ceritanya begini.

Suatu malam, sang raja hutan bermimpi akan terjadi banjir besar yang menenggelamkan seisi hutan. Tak ada yang selamat, kecuali yang menaiki sebuah kapal besar di sebuah gunung tertinggi di daerah itu. Saat terbangun, betapa terkejutnya sang raja hutan, mimpinya begitu terlihat nyata, ia tampak ketakukan. Raja percaya mimpinya itu semacam petunjuk untuk waspada.

Esok harinya, sang raja hutan mengumpulkan seluruh rakyatnya, menceritakan mimpinya, kemudian bertanya solusi untuk menghadapi bencana tersebut. Mendengar itu, penghuni hutan panik dan ketakutan. Akhirnya mereka putuskan untuk mengikuti petunjuk dalam mimpi itu, dengan membangun sebuah kapal besar di atas gunung yang paling tinggi. Semua penghuni hutan bergotong-royong membangun kapal besar. Tak lupa mereka mengumpulkan bahan makanan sebagai bekal perjalanan.

Setelah selesai, raja hutan kemudian kembali mengumpulkan rakyatnya. Dengan suara lantang ia mengatakan, ‘wahai rakyatku sekalian, sebentar lagi banjir besar itu sampai di sini dan menenggelamkan tempat kita. Maka, naiklah kalian semua ke atas kapal’. Mendengar perintah sang raja, seluruh hewan berhamburan, berlomba menjadi yang pertama menaiki kapal. Akibatnya, terjadilah kekacauan. Ada yang berteriak, ‘yang jantan harap mengalah’, beri jalan buat yang betina’.

Celakanya, tak satupun yang mau mengalah, semua hewan tetap saling sikut untuk mendapat tempat di atas kapal. Melihat itu, sang raja mengambil keputusan dan berkata, ‘rakyatku sekalian, waktu semakin sempit, air sudah meninggi. Atas nama keadilan, agar tidak ada lagi perdebatan apakah betina atau jantan yang lebih dulu naik. Saya minta kalian untuk melepaskan ‘barang’ (maaf: kelamin) masing-masing. Tinggalkan dan simpan di tempat ter-aman. Agar setelah banjir reda bisa ditemukan kembali’.

Setelah semua mengikuti perintah sang raja, benar tak ada lagi jantan atau betina, semua sama. Seluruh penghuni hutan menaiki kapal dengan tertib tanpa meributkan jenis kelamin apa yang harus didahulukan.

Singkat cerita, banjirpun surut dan semua hewan bersyukur lega atas keselamatan mereka. Tapi ternyata kapal yang mereka tumpangi bergeser tempatnya. Semula ada di atas puncak gunung, kini sudah jauh berada di kaki gunung. Setelah cukup lama mereka bergembira, raja hutan kembali meminta mereka berkumpul. ‘Rakyatku, banjir sudah reda, kita akan memulai hidup baru. Kita akan membangun hutan kita kembali’. Sebelum menutup pidatonya, sang raja mengingatkan tentang kelamin yang mereka tinggalkan di atas gunung. ‘Sekarang silahkan ambil kembali ‘barang’ kalian’. Perintah sang raja.

Sontak serentak semua hewan berlarian menuju puncak gunung. Taukah Anda, kuda adalah hewan yang paling beruntung, larinya kencang, ia sampai pertama di puncak gunung dan bisa memilih ‘barang’ yang semula ditinggalkan dengan leluasa. Kuda mendapatkan yang terbaik, baik segi bentuk dan ukurannya. Dan beruntug pula hewan lain yang bisa berlari lebih cepat, mereka bisa mendapatkan kembali ‘barang’nya.

Sementara para semut, dengan segala keterbatasan akhirnya sampai juga di puncak gunung. Tapi sayang sungguh malang, setelah berkeliling cukup lama, ‘barang’ yang ditinggalkan tak kunjung ditemukan. Mereka berputar-putar dan setiap kali berpapasan (berjumpa) dengan sahabatnya, mereka berhenti dan mendekatkan kepalanya seraya berbisik mengatakan, ‘coy, sudah ketemu belum punya lu’. Dan mungkin itulah yang hingga kini mereka tanyakan dan tegur sapakan (komunikasikan) saat mereka bertemu. Demikian tafsir tentang isi komunikasi antar-semut. (hehe becanda, hiburan dikit biar seger)

Terlepas dari cerita di atas, cara semut menyapa sahabatnya yang seolah sedang cipika-cipiki saat jumpa itu perlu kita ambil pelajaran darinya. Menyapa orang lain saat bertemu adalah tindakan mulia. Sikap itu akan semakin menguatkan silaturahim antar-sesama. Dan bukankah silaturahim melapangkan rezeki juga memperpanjang usia? Lebih-lebih ketika jumpa saudara seraya mengucapkan salam. Dan bukankah salam itu mengandung doa keselamatan atas saudara kita.

Sungguh indah jika kita mau belajar dari semut, tentang bagaimana bersikap dengan sahabat. Maka mulai sekarang, saat jumpa sahabat, tersenyumlah, ucapkan salam, jabat tangannya, dan tanyakan kabarnya. (Tapi jangan tanya, ‘coy, sudah ketemu belum punya lu?’ Hehe).

Mudah-mudahan silaturahim kita semakin kuat, mampu menghadirkan manfaat bagi diri pribadi juga sahabat-sahabat kita, panjang umur dan murah rezeki. Semoga. Wallahua’lam Bissawab.

Salam Powerful…!

Ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: