Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Ads

Sembelihlah Binatangmu

Sembelihlah Binatangmu

Judul tulisan ini diambil dari ungkapan singkat kiyai A. Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus, ‘Sembelihlah binatangmu, hidupkanlah manusiamu’, tulis Gus Mus di akun twitternya. Apa yang diungkapkan Gus Mus seolah menemukan konteksnya kembali dalam kehidupan kita akhir-akhir ini. Indoneisa dengan khas kebhinekaanya tercederai oleh ulah segelintir elite yang berebut berkuasa. Dan rakyatlah yang selalu menjadi korbannya.

Sudah terlalu jenuh rasanya melihat perilaku elite yang selalu mengatasnamakan ‘kita’ (rakyat), namun kata itu tak berbanding lurus dengan perbuatannya. Apakah pantas orang yang mewakili kita, justru mencuri (korupsi) uang kita? Apakah boleh orang yang ribut mengatasnamakan kita, justru paling dulu mengenyangkan perutnya sendiri sebelum kita yang diwakilinya? Mengapa semua itu terjadi? Nasehat Gus Mus kembali menemukan kebenearannya, kita diminta menyembelih (sifat-sifat) binatang yang bersemanyam dalam diri. Seraya menghidupkan dimensi kemanusiaan yang sejatinya akan menjadi ‘rem’ agar kita tak berlaku lalai apalagi abai pada diri sesama.

Menyembelih kebinatangan kita adalah sebuah keharusan yang mendesak. Ikhtiar itulah yang memungkinkan terwujudnya sebuah peradaban mulia, peradaban salam yang penuh dengan keslematan, kedamaian, dan kesejahteraan. Sulit untuk mengingkari dimensi kehewanan kita. Sebagaimana banyak para pemikir justru mendefiniskan mansuia sebagai hewan yang beralal (hayawan nathiq). Namun kita mampu menyembelihnya agar tidak menjadi panglima yang mendominasi setiap gerak perilaku kita dalam menjalani kehidupan. Lalu bagaimana caranya menyembelih kebinatangan kita?

Dalam surat al-A’raf ayat 179, Allah mengingatkan bahwa: ‘Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai’.

Orang yang tak menghidupkan dan memfungsikan hati, mata, dan telinga digambarkan sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat. Artinya, bila manusia mampu memfungsikan ketiga unsur yang dimilikinya (hati, mata, dan telinga) maka ia akan terhindar dari predikat hewan ternak yang lebih hina. Tentu hati adalah sesuatu yang ada di dalam dada, ia terkait dengan rasa. Sementara dua indera lainnya, yaitu mata dan telinga harusnya menjadi ‘jendela’ agar hati yang ada didalam itu mendapat cahaya. Maka cahaya itu akan terang atau tidak mula-mula bisa disebabkan oleh mata yang sungguh melihat, dan telinga yang sungguh peka mendengar.

Bukankah pernah kita dengar sebuah hadits Rasulullah saw. yang menyebutkan bahwa ada segumpal darah dalam tubuh manusia yang jika ia baik, maka baik pula seluruh diri dan amal perbuatannya. Sebaliknya jika buruk, maka buruk pula seluruh diri dan amal perbuatannya. Segumpal darah itu adalah hati. Menjaga hati tetap baik sesungguhnya memelihara seluruh perbuatan agar terjaga dan tak terjatuh pada perbuatan keji, kejam, curang, tanpa akal sebagaimana sifat para binatang.

Akhirnya, cara ampuh menyembelih binatangmu adalah dengan cara menghidupkan hati. Sekali lagi bahwa Allah memberi dua jendela sebagai jalan cahaya untuk masuk menyinari hati, yaitu sungguh-sungguhlah membaca dengan mengaktifkan mata dan telinga. Mulai hari ini, ketika melihat sebuah peristiwa yang terjadi di depan kita, bukalah mata dan pasanglah telinga, semoga hati mampu bergetar atas apa yang telah Allah tunjukkan sebagai ayat-ayatnya untuk dibaca. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org
 

Ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: