Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Ads

Sadar Ujian

Sadar Ujian

Pernah dengar istilah ‘sadar kamera’? Biasanya ini disematkan pada orang yang jika melihat kamera langsung ‘bergaya’. Ia sadar bahwa sesuatu yang sedang memperhatikannya. Sehingga muncul ekspresi sebagai respon dari situasi tersebut. Pun, serupa dengan seseorang yang sadar ujian. Seseorang yang tahu bahwa dirinya sedang diuji akan memberikan respon tertentu pada kondisi tersebut. Mereka yang ‘sadar’ kemungkinan akan lebih siap menerima ujian. Seperti siapnya seseorang bergaya ketika ada kamera.

Kadang kita, atau saya pribadi pernah merasa menjadi orang yang termalang di dunia. Hidup melulu sial, jauh dari sukses, akrab dengan derita. Kita marah dengan keadaan. Protes pada Tuhan, mengapa Dia begitu tak adil. Mengapa ujian soalah tak ada ujungnya. Mengeluh mengungkit-ungkit ibadah yang sudah dilakukan, menyebut-nyebut perintah-Nya yang sudah dijalankan.

‘Ya Allah, bukankah aku sudah menjalankan perintah-Mu, aku rajin sedekah, tak pernah tinggal sholat jamaah, tapi kenapa hidupku masih begini? Dan seterusnya. Semua kekecewaan kita tumpahkan, dan tampillah kita seperti orang yang putus asa pada ketetapan Sang Pemilik Ketetapan.

Pada saat yang lain, mungkin ketika diberikan ‘kelebihan’, tiba-tiba dapat ‘rezeki nomplok’, kita justru  larut dalam kegembiraan yang berlebih. Lupa bahwa bisa jadi kelebihan-kelebihan yang dirasakan itu adalah bentuk lain dari ujian Allah.

Adalah kepastian bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Keyakinan ini harus terpatri dalam diri setiap muslim, tanpa itu bolehlah dipertanyakan kualitas keimanannya. Bukankah tidaklah seseorang itu dibiarkan begitu saja mengaku beriman tanpa Allah akan memberikannya ujian. Satu hal yang penting diingat bawaha wajah ujian itu bisa suka atau derita. Kemalangan atau keberuntungan. Kelebihan atau kekurangan.

Mereka yang sadar ujian, tak larut terpuruk saat derita. Jika kemalangan yang menimpa, maka mengeluh bukanlah solusi tepat menghadapinya. Memaki-maki ketetapan Allah bukanlah sikap yang patut untuk merespon ujian-Nya. Sebab bisa jadi kesusahan itu adalah ujian yang harus dilalui sebelum kita naik pada kelas yang lebih tinggi. Satu-satunya respon yang terbaik adalah, bersyukur. Berbagaialah sebab sukses Anda sudah di depan mata?

Bila bahagia yang kini sedang dirasa, tak perlu terbuai hingga lupa bahwa ini juga ujian. Waspadalah, bisa jadi kebahagiaan itu pintu masuk menuju derita jika tak mampu bersyukur atasnya. Boleh jadi pada waktu yang tak terduga, keberuntungan hilang dan berubah menjadi kemalangan. Na’uzubillah.

Menyadari sesuatu yang terjadi, baik dan buruk yang kita alami adalah ujian, seperti seseorang yang sadar kamera. Dia akan ‘bergaya’, sebagai reaksi dari kesadarannya pada kamera. Pun, mereka yang sadar ujian tahu persis bagaimana seharusnya bereaksi pada situasi yang dialaminya. Mereka sadar bahwa sedang dihadapkan pada ujian, baik dalam rupa yang gembira ataupun duka. Inilah yang membuat mereka kuat terjaga bahwa segala sesuatu milik Allah dan kepada-Nya semua itu akan kembali. Wallahu ‘Alam Bissawab.

 

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org dan http://jujulmaman.blogspot.com 

Ads

4 Comments

  1. Tulisan yang ringan, namun menggugah hati…salam panters…hehe

Leave a Reply

%d bloggers like this: