Pages Navigation Menu

Mengabdi Untuk Kehidupan

Ads

Membuka Presentasi

Membuka Presentasi

Salah satu momen terpenting dalam presenasi adalah pada saat membuka. Pembukaan yang baik akan memudahkan presenter untuk melangkah pada tahap berikutnya.

Sebagai seorang presenter yang baik, pembukaan merupakan momentum untuk menggugah audiens sejak awal. Manfaatkan momen ini untuk mengikat audiens secara emosional, meyakinkan mereka bahwa dengan duduk dan menyimak presentasi Anda merupakan pilihan tepat untuk solusi atas persoalan mereka. Yakinkan kepada audiens bahwa Anda siap membantu mereka.

Ada banyak cara membuka presentasi, namun pada kesempatan ini saya akan berbagi tiga tips bagaimana pembukaan yang akan menggugah emosi audiens dan membuat mereka bersedia mendegarkan Anda sampai akhir.

Pertama, Mulai dengan Manfaat. Tunjukkan pada audiens apa manfaat yang akan mereka peroleh setelah mengikuti presentasi Anda. Sahabat sekaligus guru saya, seorang trainer Great Teacher sering menggunakan singkatan AMBAK, Apa Manfaat Bagi Aku, untuk menjelaskan bagaimana cara membuat audiens akan tertarik dengan presenatsi kita pada awal presenasi.

Maka, seorang presenter harus mampu menjelaskan manfaat apa yang akan mereka dapat. Untuk itu, dalam tahap persiapan presentasi penting untuk menentukan tujuan presentasi. Sehingga sebagai presenter, kita memiliki panduan untuk mengarahkan hasil akhir yang akan dirasakan oleh audiens.

Kedua, Berceritalah. Setiap orang menyukai cerita. Saya ingat saat kecil, sebelum tidur paman saya sering mendongeng sebagai pengantar tidur. Sampai sekarang saya selalu ingat moment itu. Nah, selain menjadikan daya tarik dalam pembuka presentasi, cerita juga menjaga ingatan jangka panjang audiens pada presentasi kita, atau setidaknya kepada kita.

Pilihlah cerita yang ‘nyata’, misalnya kisah sukses seseorang, atau jika Anda memiliki kisah inspiratif tetang pengalaman Anda pribadi akan jauh lebih baik untuk menjadi materi cerita. Bagaimana jika tak punya? Usahakan kaitkan cerita itu dengan Anda. Misalnya saat bercerita kesuksesan orang lain. Kalimat yang akan mengaitkan cerita itu dengan Anda adalah sebagai berikut, ‘Ini kisah seorang sahabat guru saya, pada saat saya silaturahim ke rumah guru saya, beliau bercerita kisah ini yang membuat saya bersemangat, dan saya akan berbagi ini kepada Anda semua.’

Cara membuka cerita yang demikian itu lebih terasa emosinya, sebab Anda soalah menjadi bagian dari kisah tersebut. Hal lain yang perlu diingat, cerita harus terkait dengan topik yang akan diampaikan. Ini akan memudahkan audiens memahami isi presentasi kita.

Ketiga, Ajukan Pertanyaan. Dengan bertanya, presenter mengajak audiens berfikir. Tentu pertanyaan bukan dimaksudkan untuk membuat ciut nyali audiens. Jangan sampai mereka beranggapan, ‘Ah belum apa-apa sudah disuruh mikir nih kita, susah lagi pertanyaannya’. Pertanyaan yang dilontarkan haruslah pertanyaan yang sederhana, atau kadang tak perlu membutuhkan jawaban dari audiens. Misalnya, ‘tahukah Anda, bahwa dalam sebuah survey, orang Amerika dewasa 75 persen dari mereka lebih takut bicara di depan umum dari pada kematian?

Atau dengan bertanya, presenter mengajak audiens untuk sedikit bergerak. Misalnya, ‘Berapa orang yang di rungan ini yang pernah mengikuti training atau workshop public speaking? Boleh angkat tangan’. Serupa dengan cerita, usahakan pertanyaan juga terkait dengan topik presentasi.

Membuka dengan baik, berarti memberikan kesan pertama yang baik untuk sebuah presentasi. Ciptakan persepsi positif di menit-menit awal presentasi Anda. Dan bila audiens terhipnotis pada titik ini, maka selanjutnya terserah Anda. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
atau di facebook Julmansyah Putra 
 
 

Ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: