Pages Navigation Menu

Sebaik-baik manusia adalah yang menghadirkan manfaat untuk sesama

Ads

Tiga Cara Elegan Menegur Audiens yang ‘Asik Sendiri’ Tanpa Menyakiti

Tiga Cara Elegan Menegur Audiens yang ‘Asik Sendiri’ Tanpa Menyakiti

Pernah mengalami, saat anda sedang berbicara, audiens justru asik sendiri dan tidak memperhatikan. Bagaimana rasanya? Marah, jengkel, bahkan sedih mungkin adalah respon kita dari kejadian itu. Tapi tahukah anda, bahwa cara kita merespon sebuah peristiwa menunjukkan kualitas diri dan kelas kita, yang pada akhirnya akan mempengaruhi penilaian audiens terhadap kita.

Jika anda ‘cuek’, artinya anda sedang memilih respon untuk tidak merespon. Tentu jika itu pilihannya, rasanya bukan pilhan yang tepat untuk seorang pembicara. Tidak menegur audeins yang asik sendiri, artinya kita sedang membenarkan apa yang audiens lakukan. Celakanya, bisa saja audiens itu menulari yang lain dan semuanya menjadi asik sendiri.

Sebaliknya, memilih untuk menegur audiens yang asik sendiri harus dilakukan dengan cara yang tepat, salah cara menegur akan memperlebar jarak antara pembicara dengan audiensnya. Lalu, bagaimana cara elegan menegur audiens yang asik sendiri, sehingga mereka tak perlu kehilangan muka dan anda sebagai pembicara tetap berwibawa? Asik bukan? Nah, berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan:

Pertama, lakukan tindakan pencegahan. Sebelum memulai kita perlu mengajak audiens untuk bersepakat dalam beberapa hal, misalnya menonaktifkan handphone, mengikuti acara dengan penuh semangat, dan lain-lain. Membuat aturan bersama ini sebaiknya dilakukan dengan cara yang menyenangkan, jika kaku, kemungkinan audiens tidak dengan senang hati melakukannya.

Bayangkan, jikat tiba-tiba pembicara memulai pembicaraannya dengan nada yang tak bersahabat mengatakan, ‘tolong jangan bersisik ya, perhatikan saya, yang punya hape dimatikan dulu’, apalagi sambil menunjuk-nunjuk audiens. Mungkin dalam hati audiens akan mengatakan ‘eh siapa elu, tiba-tiba ngatur gua’. Sekalipun anda seorang atasan, karyawan tidak akan suka diperlakukan seperti itu, mungkin mereka tidak ‘melawan’, tapi mereka akan setengah hati mendengarkan.

Tindakan pencegahan, jika dalam sebuah pelatihan berdurasi panjang bisa dilakukan pada sesi pertama. Sesi ini ditujukan untuk membangun suasana dan ice breaking; mencairkan sumbatan komunikasi antara trainer dengan peserta dan antar sesama peserta. Aktivitasnya adalah perkenalan, menyampaikan harapan, dan membuat aturan kelas untuk ditaati bersama selama pelatihan.

Tapi, jika durasi acara tidak terlalu panjang, tindakan pencegahan bisa dilakukan dengan cara sederhana. Misalnya, bersama audiens menyepakati jika pembicara mengatakan ‘halo’ audiens akan menjawab ‘hai’, dan begitupun sebaliknya. Pada saat audiens sudah mulai asik sendiri, pembicara bisa menegur mereka dengan mengatakan ‘halo/hai’, biasanya spontan audiens akan menjawabnya sesuai kesepakatan. Lakukan beberapa kali sampai audiens kembali fokus dan siap mendengarkan.

Kedua, lakukan kontak mata dan mainkan intonasi suara. Ketika ada audiens yang asik sendiri, kadang kita tak perlu menegurnya secara verbal. Cukup arahkan pandangan kepada mereka, tahan beberapa saat, tetap lakukan dengan santun dan tersenyumlah, ingat audiens tidak mau kehilangan muka. Saat audiens menyadari anda sedang memperhatikan mereka, dengan sendirinya perhatian akan kembali kepada anda.

Tapi, menegur dengan tatapan mata mungkin akan berlaku maksimal jika audiens tidak terlalu banyak. Sebab sulit memastikan melihat audiens yang berada jauh di barisan belakang. Dalam kondisi ini, pembicara bisa memainkan intonasi suaranya; meninggikan atau merendahkan tergantung situasinya. Bahkan dalam beberapa keadaan, pembicara perlu diam tak bersuara beberapa saat, sampai audiens menyadari dan kembali fokus.

Ketiga, berjalan dan dekatilah. Jika memungkinkan anda untuk berjalan dan mendekati audiens yang sedang asik sendiri, maka lakukan. Langkah ketiga ini semakin sempurna jika dikombinasikan dengan melakukan kontak mata. Audiens akan semakin menyadari bahwa anda sedang menegurnya. Atau bila perlu, lakukan interaksi dengan bertanya, tapi bukan pertanyaan yang berat, jangan sampai audiens merasa anda sendang mengintimidasinya. Cukup bertanya, ‘bagaimana, ada pertanyaan?’

Itulah tiga cara elegan menegur audiens yang asik sendiri. Sebagai pembicara kita perlu menyadari penyebab audiens asik sendiri, apakah faktor eksternal, misalnya karena ruangan terlalu terbuka, bising, pendingin rungan yang tidak berfungsi, dan sebagainya. Atau justru penyebab audiens asik sendiri karena faktor internal, karena kita asik sendiri berbicara atau membaca slide, kita cuek, maka audiens akan cuek.

Apapun penyebabnya, ingatlah yang terpenting adalah bagaimana kita meresponnya. Kejadian ini bisa menimpa semua pembicara, termasuk anda. Saat mengalaminya, tegurlah audiens dengan cara yang elegan, dengan begitu kita tidak akan kehilangan wibawa dan audiens tidak perlu kehilangan muka. Tapi jika, sudah melakukan tiga cara tersebut audiens masih asik sendiri dan bahkan semakin menjadi-jadi. Mungkin itu pertanda anda harus segera mengakhir pembciaraan.

Punya pengalaman serupa dan bagaimana kamu mengatasinya, bisa dishare di kolom komentar ya. Agar semakin banyak pengalaman yang bisa kita pelajari. Selamat berbagi.

Salam Powerful…!

Julmansyah Putra

Yuk lanjut silaturahmi di instagram @motivapicture dan di facebook Julmansyah Putra

Ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: