Pages Navigation Menu

Jadilah Taat dan Bermanfaat

Ads

Stop School Bullying

Stop School Bullying

Korban bullying akan mengalami trauma psikologis, bahkan dampak terburuknya adalah kematian. Sebagaimana yang menimpa seorang anak SD di Tasikmalaya, bocah malang itu meninggal setelah dipaksa teman-temannya untuk menyetubuhi kucing. Celakanya, seolah tak bersalah, teman-teman korban merekam peristiwa bullying tersebut dan menyebar di media sosial.

Menurut Mensos, Khofifah, sebagaimana dikutip Liputan 6 SCTV (9 November 2015), mengatakan bahwa empat puluh persen bunuh diri anak disebabkan oleh bullying.

Lalu apa konsekuensi hukuman bagi pelaku bullying? Mengenai hal ini telah diatur dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, pada pasal 76C disebutkan bahwa: ‘Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.’

Dan pada pasal 80 dijelaskan mengenai hukuman bagi pelaku tindak kekerasan terhadap anak, yaitu pidana penjara maksimal tiga tahun enam bulan dan/atau denda paling banyak tujuh puluh dua juta rupiah.

Bahkan, jika peristiwa bullying itu disebarkan melalui internet (medsos), maka pelaku dapat dikenakan juga Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Bila melihat kasus bullying yang terjadi di Tasikmalaya, dengan merekam korban dan jika mereka mengunggah reman tersebut, maka UU ITE dapat disangkakan terhadap para pelaku.

Apa sih sesungguhnya School Bullying itu, dan apa saja yang termasuk dalam kategori bullying? Secara sederhana bullying dapat diartikan sebagai ‘perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seseorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/sisi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.’

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, terdapat enam kategori bullying; Pertama, Kontak Fisik Langsung. Biasanya perundungan ini dalam bentuk kekerasa fisik; memukul, mencubit, dan sebagainya. Kedua, Kontak Verbal Lansung. Dalam bentuk mengancam, mempermalukan, dan lain-lain.

Ketiga, Perilaku Nonverbal Langsung; melihat dengan sinis, ekspresi muka merendahkan, dan lain-lain . Keempat, Perilaku Nonverbal Tidak Langsung; mendiamkan, mengucilkan, dan lain-lain . Kelima, Cyber Bullying; perundungan melalui sosmed. Keenam, Pelecehan Seksual; baik dalam bentuk fisik atau dilakukan secara verbal. (Sumber: www.kemenpppa.go.id)

Sebenarnya sudah banyak yang dilakukan untuk mencegah dan menangani kasus bullying. Satu hal yang perlu kita sadari bahwa melawan bullying membutuhkan sinergi semua pihak, sehingga tidak ada ruang bagi pelaku dan tidak perlu ada anak yang kehilangan masa depan karena bullying.

Sinergi melawan bullying bisa kita mulai dari tiga peran sebagai berikut: Pertama, Peran Orangtua. Jadilah orangtua yang hadir, bukan sekedar ada. Orangtua harus peka, peduli, empati terhadap perrubahan dan perkembangan anak. Hendaknya juga menjadi sahabat bagi mereka, sehingga keterbukaan akan menjadi peluang untuk saling menjaga dan mengawasi.

Kedua, Peran Sekolah. Sesuai Permendikbud tahun 2015 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan Pendidikan, maka sekolah berkewajiban membentuk sistem pengaduan bagi korban. Sekolah tak perlu khawatir  dan menganggap aib sekolah bila membuka kasus bullying.

Justru sekolah harus lebih terbuka, sehingga ikhtiar melawan bullying dapat kita menangkan. Selain pengaduan korban, pihak sekolah bisa memfasilitasi kegiatan pencegahan, berupa seminar parenting, sosialisasi bahaya bullying, dan perlu mendorong siswa melakukan kegiatan yang positif dalam organisasi. Maka

Ketiga adalah Peran Organisasi Kesiswaan. Siswa harus dibimbing untuk mengaktualisasikan diri dalam organisasi yang sehat dan mengedepankan prestasi.

Stop School Bullying, sebab masa depan anak hari ini adalah masa depan Indonesia esok hari.

Salam Sehat,

Julmansyah Putra

Ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: